Mariyam dan Ali

Azrai Putra Barumun Daulay
Chapter #21

Bab 20

Pagi itu, air laut tampak begitu tenang dan jernih, pandangan mata bahkan bisa menembus sampai ke dasarnya, ikan-ikan kecil terlihat jelas berenang di antara lembaran rumput laut dan terumbu karang.

Kaca, yang setiap harinya pergi melaut, pun berangkat dengan riang gembira dan semangat yang meletup-letup. Dia adalah pemuda dari sebuah desa di pinggir laut. Ia hidup bersama dengan istri dan satu anaknya. Kesehariannya adalah mencari ikan, sebagian untuk menjadi lauk santapan, dan sebagian lagi untuk dijual.

Maka berangkat ia pagi itu, dalam cahaya samar fajar yang berpendar. Diayunkannya sampan ke arah utara, melewati dua pulau yang terapung, pulau yang disebut olehnya sendiri pulau kembar, karena rupa dan isian kedua pulau itu yang tak banyak berbeda. Dia ke sana dalam rangka melihat hasil jaring yang ditambatkannya di suatu area laut pada waktu kemarin petang.

Satu per satu jaring diangkat dan digulungnya, melihat hasilnya, muncul ketidakpuasan di wajahnya. Tak banyak yang ia dapat hari itu, tak banyak ikan yang terjebak di untaian jaring-jaringnya, paling-paling hanya ada dua sampai empat ekor dalam setiap jaring yang tertambat.

Maka lelaki itu pulang setelah menggulung rapi semua jaringnya yang berjumlah empat buah. Ia akan kembali lagi ketika sore tiba. Mendayung ia dengan pelan, mengalun lembut pula sampan yang ditumpanginya. Kecipak air dari dayung cedar yang mengayun di genggamnya menjadi latar musik kepulangannya pagi itu. Pandangannya ia sapukan ke segala penjuru, memandang dengan teduh dan penuh rasa syukur pada semua yang dilalui. "Betapa indah ciptaanmu Tuhan," batinnya.

Tatkala ia melewati satu dari dua pulau kembar itu, dan berada di antara keduanya, terusik pandangannya pada sebuah gumpalan yang ada di dasar laut, tidak ada gambaran yang terlintas di kepalanya perihal gumpalan tersebut. Maka ditusuknya menggunakan dayung yang ada di genggaman, dan seketika gumpalan itu mengembang dan semakin terbenam. Lembut ia rasa di ujung tombak, keheranan dan rasa penasaran kian menjadi-jadi karenanya. Maka melompat dia ke dalam air, dengan sebilah tangan yang masih menyembul ke permukaan, berpegangan pada tepian sampan, dirabanya gumpalan itu, dan tak sengaja tangannya menarik ruas-ruas jari, terperanjat ia karenanya, dirasainya nyawa di badannya hampir melayang, bergidik ia karena rasa takut, dan tanpa sadar, tubuhnya telah sepenuhnya naik ke atas sampan.

Matanya melotot sebesar jengkol, pikirannya bertanya-tanya gerangan apa yang ada di dasar laut itu. "Bukahkah itu mayat?" Gumamnya.

Mengucap kalimat istigfar ia berulangkali hingga tenang batinnya, dan ketika ia sudah merasa tenang dan keberaniannya pun telah muncul, maka melompat kembali dia ke dalam air. Pelan-pelan ditariknya tubuh mayat tersebut, dan ketika telah sampai ke permukaan, seketika mayat itu berbalik, menampakkan wajah yang telah pucat pasi, kedua mata mayat tersebut tertutup­—barangkali disapu ombak, sementara mulutnya menganga—barangkali disapu ombak dan dimasuki ikan-ikan. Dirapatkannya mulut yang menganga itu menggunakan salah satu tangannya, kemudian dengan susah payah menaikkan mayat tersebut ke atas sampan. Meringkuk tubuh si Mayat di lambung sampan, wajah menghadap ke lantai, sementara badan membentuk lengkungan dan sedikit menungging.

Tak dikenalinya siapa pemilik jasad tersebut, diingat-ingatnya dengan sungguh-sungguh, dan benarlah, pemilik jasad itu tak pernah nampak di lingkungan tempat tinggalnya. Diayunnya sampan menuju tepian, ke satu-satunya bangunan yang berpenghuni, Warung Mayar.

Dari bibir pantai digotongnya mayat tersebut seorang diri, bersusah payah sambil berteriak minta pertolongan, "Tolong… Tolong…". Di samping sepeda motor yang terparkir direbahkannya mayat itu.

"Tolong…" Ia masih terus memanggil, raut wajahnya menggambarkan kepanikan, tersengal-sengal ia di samping si mayat.

Tak lama kemudian, suami-istri pemilik warung tergopoh-gopoh menghampirinya. "Ada apa Pak?" tanya suami pemilik warung dengan panik, masih di halaman warung.

"Ada yang hanyut Pak," ucap si Nelayan sambil jemarinya menuding ke arah jasad yang tergeletak.

Sontak istri pemilik warung berhenti melangkah, tertahan napasnya, dan pucat pasi kulit wajahnya. Tak kuasa ia menghampiri, maka diputarnya tubuhnya, dan kembali berlindung dia di dalam warung kepunyaannya.

"Siapa ini Pak?" tanya lelaki pemilik warung meminta penjelasan sesaat setelah ia berdiri di sebelah si mayat.

"Entah Pak, aku pun tak kenal."

"Yasudah, kita telpon polisi biar mereka bawa!"

Si Nelayan mengangguk, "Bapak yang telpon Pak! Aku gak bawa hape."

"Ya benar." Maka melesat si pemilik warung ke dalam warungnya, melakukan apa yang disepakati.

           

Entah siapa yang membeberkannya, tiba-tiba saja orang-orang telah ramai berkumpul di sekitaran jasad yang masih terbujur itu. Bergunjing mereka di sekitar si mayat, menebak-nebak apa yang terjadi. Raut mereka sebagian menampakkan ngeri, sebagiannya lagi tampak tenang.

Dan ketika polisi sampai ke lokasi, dibawalah jasad tersebut beserta si Nelayan ke rumah sakit kecamatan. Sesampainya di sana, segera para petugas medis melakukan autopsi, sementara si Nelayan digiring menuju kantor polisi terdekat untuk dimintai keterangan.

 

Lihat selengkapnya