Bertahun-tahun kemudian…
Benarlah apa yang dikata Sulliha bahwa kematian sejatinya adalah tanggung jawab dan kehendak tuhan. Dan kematian yang ditakutkan sebagian orang itu tak juga mampir ke diri Mariyam. Panjang umurnya, kini usianya telah menginjak 70 tahun. Perawakannya telah banyak berubah, keriputnya kian bertambah-tambah, fisiknya sudah lemah, berjalan pun ia tak lagi mampu, kemana-mana hanya diantarkan oleh seorang pengasuh.
Terduduk dia di suatu pagi menjelang siang di atas kursi rodanya, di bawah pohon mangga yang tumbuh rimbun di samping rumah, seorang diri, sekumpulan nyamuk mengerubunginya—meski begitu ia tak terganggu dengan hal tersebut sebab tangan yang masih bisa bergerak akhirnya punya kegiatan lain selain hanya teronggok di lengan kursi. Bersemangat dia menggampar satu per satu nyamuk yang hinggap di tubuhnya, ataupun yang terbang di depan wajahnya.
Sementara Ali pun tak juga menemui ajalnya. Hidupnya pun panjang seperti hidup Mariyam. Hanya saja dia tak lumpuh, dan masih bisa berjalan, meski tertatih-tatih. Meski begitu, penyakit lain menggerogoti saluran pernapasannya. Adalah rokok yang menjadi sumber utama. Kini tubuhnya kurus kering hingga terlihat tulang belikat dan rusuknya. Keperkasaannya di kala muda sudah tak nampak lagi, hanya kelemahan yang tersisa.
Suami-istri itu kini hanya tinggal berdua saja di rumah itu, beserta seorang suster yang mengurus mereka. Keempat anak mereka telah berpencar jauh, menempuh kehidupan mereka masing-masing. Wahyu akhirnya menikah juga, dengan seorang gadis yang merupakan rekan kerjanya. Dia tak lagi tinggal di Desa N, kini menetap di pulau Kalimantan karena urusan pekerjaan. Mufida masih asik dengan kesendiriannya, mengunjungi tempat-tempat yang pernah menjadi impiannya. Gunung, laut, perkampungan tersembunyi, legenda hantu, semua tempat itu masuk ke dalam daftar destinasi tujuannya. Sementara Zul dan Fatimah sedang mencari penghidupan dan jati diri di Kota Jakarta.
Pagi menjelang siang itu, entah bagaimana tiba-tiba saja hati Ali merasakan rindu yang amat sangat. Perasaan rindu yang tak tertahankan. Ia rindu akan suara adzan. Gelisah dia di ruang tamu, melirik jam dinding berulang kali, berharap jarumnya segera melesat. Entah rindunya memang pada suara adzan atau itu adalah bentuk hidayah dari Tuhan kepadanya sebagai panggilan agar ia mendirikan solat, ia tak tau.