Bagi kebanyakan orang, mengepak barang ke dalam kardus dan pindah rumah adalah tentang menyambut lembaran baru. Namun bagi seorang gadis remaja bernama Rui Arunika, rutinitas ini tidak lebih dari sekedar ritual penghapusan eksistensi yang sepi. Serangkaian kepindahan tanpa akhir yang perlahan mengaburkan makna dari kata menetap.
Ini kali ketiga Rui harus mencabut paksa akar yang baru saja mulai tumbuh. alasan yang ia dengar selalu sama, surat mutasi milik sang Ayah—seorang perwira kepolisian—yang garis hidupnya seolah murni didikte oleh tugas negara. Di mata Rui, seragam Ayahnya bukan hanya sekedar lambang pengabdian melainkan sebuah peringatan konstan bahwa tidak peduli ia nyaman di suatu tempat, cepat atau lambat ia harus mengemas hidupnya dan pergi tanpa benar-benar berpamitan. Sebab inilah Rui tidak memiliki teman dekat.
Dengan menggendong tas ransel sekolah yang biasa ia pakai, Rui menatap bagunan berwarna kuning pucat dan cokelat tua yang di beberapa bagian mulai mengelupas dimakan cuaca. Ini mungkin terakhir kalinya dia berada di sini sebelum markasnya ditempati orang lain. Rui akan merindukan suasana sore di asrama yang menjadi tempat tinggalnya bersama keluarganya selama tiga tahun terakhir.
Lapangan kecil tempat ia biasa duduk sore hari.
Warung depan gerbang yang menjual es cokelat favoritnya.
Dan suara peluit petugas jaga yang selalu terdengar tepat pukul sembilan malam.
Mungkin ini terakhir kalinya ia melihat semua itu.
"Rui, ayo!" seruan sang Ayah—Damar—yang berdiri di samping mobil membuat Rui menghela napas panjang.
Melihat anaknya yang tampak berat meninggalkan rumah, Kirana—sang Ibu, berjalan mendekati Rui dan memeluk putri semata wayangnya dari samping.
"Masih sedih?" tanyanya lembut.
"Harus banget pindah, Bu?" Rui bertanya dengan nada lirih.
Kirana tersenyum seraya mengusap surai Rui yang hitam panjang, setelahnya merapikan poni Rui yang sedikit menutupi mata.
""Ibu janji, tempat baru kita bakal menyenangkan." Kirana meyakinkan Rui.