“Lin! Lin!” panggil berulang dari seorang wanita dengan nafas terengah. Punggungnya sedikit membungkuk karena menggendong seikat ranting kayu yang ia dapat sebagai upah mencuci di rumah Bu Lurah. Jaman sekarang, meski bekerja tanpa upah uang tidak jadi mengapa baginya.
Nama wanita itu Sima, janda desa yang selama ini terpaksa harus mencari nafkah sendiri. Suaminya meninggal sejak anak mereka berumur lima tahun, jadi sudah nyaris seumur hidup ia melakukan semua pekerjaan kasar demi menyambung kehidupan bersama anaknya, Marlin.
Mendengar seruan sang ibu, Marlin buru-buru menutup buku yang sedari tadi mengisi kesibukannya. Ia gegas berlari keluar, menyambut kedatangan Sima.
Marlin menghela nafas begitu melihat ibunya. Antara rasa tidak tega, tapi Marlin juga tidak bisa melarang Sima kesusahan. Marlin masih sekolah, meski sudah hampir lulus, Marlin masih belum bisa mengatur waktu untuk membantu Sima.
“Dari mana saja sih, kamu?” tanya Sima dengan mata mendelik tajam. Seikat kayu di punggung sudah ia letakkan di sudut emperan rumah, Marlin terlambat membantu.
“Aku lagi belajar, Bu,” jawab Marlin tidak menunjukkan rasa bersalah. Baginya sudah biasa mendapat respons kurang enak dari Sima. Sang ibu memang sedang kelelahan, jadi wajar saja sering cepat marah.
Sima tidak lagi membalas. Kedua tangannya sibuk mengambil beberapa ranting untuk dibawa ke dapur. Marlin pun perlahan mendekat, berniat menawarkan bantuan, tapi Sima melengos begitu saja.
“Kalau begitu, lanjutkan saja belajarmu,” ucap Sima terdengar samar saat sosok itu sudah masuk ke dalam rumah, berjalan menuju ruang belakang tempat biasa memasak.
Marlin masih membisu di tempat. Bahkan sampai Sima tidak terlihat, ia belum beralih dari tempatnya berdiri. Ia tahu, keinginannya untuk melanjutkan kuliah pasti membebani Sima. Marlin sadar, karena keadaan hidup mereka saat ini, impiannya tampak seperti bualan kosong, saat diucap hanya jadi batu keras yang menghalangi jalan.
Sampai di dapur yang masih beralas tanah dan berdebu, Sima mengedarkan pandangan dengan sayu. Perkataan Marlin kembali terngiang di kepalanya. Perasaan bersalah selalu merasuk dalam benak saat teringat putranya itu. Ia menyesali keadaan, kenapa anak yang penuh ambisi seperti Marlin harus lahir dari ibu yang tidak punya apa-apa sepertinya? Keinginan Marlin tidak hanya jadi bahan guyonan orang-orang sekitar, bahkan tidak jarang Sima mendapat olok-olok ketika bercerita tentang Marlin.
“Orang sudah miskin itu, setidaknya harus tahu diri. Kalau pun anakmu lolos tes, mau berangkat pakai apa? Bantu-bantu cari duit tambahan pun tidak mau,” ucap salah satu ibu pemilik toko saat Sima membeli sayur mentah di sana. Sayur itu kini tepat ada di atas meja kayu, di hadapannya. Perlahan Sima meremas kuat kedua tangan.
“Bahkan kita tetap harus masak dan memakan sayur penuh cacian ini, Marlin,” batin Sima ingin tertawa. Lucu sekali memang hidup sebagai orang miskin, meski ada kalanya tidak mau dikasihani tapi tangan tetap harus menerima karena butuh.
“Bu?” Satu panggilan mengaburkan seluruh ocehan di kepala Sima. Ia menoleh, Marlin menghampirinya, mengambil alih ranting-ranting yang sedari tadi belum sempat ia letakkan.
“Biar Marlin hidupkan apinya,” ujar Marlin sambil sibuk menata perapian. Tangan itu lincah memasukkan satu persatu ranting ke dalam tungku, lalu membakar ujung kertas yang ia temukan untuk menyulut api.
“Kamu yakin mau kuliah?” tanya Sima sembari meraih kantong plastik biru berisi sayuran.
Marlin duduk di atas dingklik kayu, seperti biasa ia akan bertugas menjaga api tetap hidup selama ibunya memasak.
“Iya, Bu. Hanya itu jalan satu-satunya agar Marlin bisa mengubah kehidupan kita,” jawab Marlin tenang. Jawaban ini sudah berulang ia katakan, karena ibunya juga sering mempertanyakan.
“Pasti butuh banyak uang, kan?” tanya Sima lagi. Tanpa menoleh, tapi ia masih dengar helaan nafas dari putranya.
“Marlin akan dapatkan beasiswa, jadi Ibu tidak perlu khawatir masalah biaya kuliah,” jawab Marlin lagi.
“Emang bisa begitu?” tanya Sima, sesaat tangannya berhenti dari kesibukan memotek kacang panjang.