Marlin bersama teman pemuda yang lain sedang beristirahat usai selesai mencabut seluruh rumput halaman belakang masjid. Saat ini, mereka tengah duduk membaur jadi satu di depan masjid, memilih tempat yang lebih teduh.
“Prapto bagaimana? Tidak jadi kuliah?” tanya Bagas, salah satu teman seangkatan Marlin.
Mendengar pertanyaan itu, Marlin sedikit melirik tidak suka pada Bagas, tapi yang bersangkutan hanya menyeringai jail, memang sengaja membawa topik itu ke arah sana.
“Di sekolah saja aku sering bolos, buat apa kuliah?” jawab Prapto seraya tertawa diikuti yang lain. “Kalau Marlin, pasti mau kuliah. Iya kan, Lin?” lanjutnya bertanya sambil menunjuk dagu pada Marlin.
“Apa sudah selesai?” tanya Marlin mengabaikan celotehan Prapto dan Bagas.
“Wih, belum jadi anak kota saja sudah sombong, nih!” ujar Bagas dengan nada mengejek.
Tidak hanya Marlin, selain Prapto dan Bagas, teman pemuda yang lain juga tampak tidak suka dengan niat provokasi itu. Mereka semua tahu, Bagas dan Prapto hanya ingin menghina Marlin di depan umum begini.
“Marlin memang pintar, jadi sayang kalau tidak kuliah,” ucap Santi menengahi seraya berdiri. Prapto dan Bagas saling pandang, merasa tidak suka karena Santi ikut-ikutan hanya untuk membela Marlin.
“Aku juga ingin kuliah, siapa tahu bisa jadi satu kampus dengan Marlin,” lanjut Santi dengan aura ceria yang biasa terpancar darinya. Teman pemuda perempuan yang lain hanya senyum-senyum saja melihat tingkah satu temannya itu.
Marlin mematung di tempat, pandangannya tampak dingin tapi hatinya untuk sesaat merasa hangat. Santi masih tersenyum ke arahnya dengan tulus.
“Wah, semoga kalian sama-sama menjadi sarjana pertama di desa, ya!” seru Caca, teman dekat Santi di lingkungan ini. Berkat seruan itu, suasana yang semula canggung kembali mencair.