Tiba di rumah Bu Lurah, orang-orang pencari kerja seperti Sima sudah banyak yang datang. Sima menyapa dengan ramah, senyum manisnya mengembang untuk mempertegas pembawaan dirinya yang kalem.
“Kami sudah mulai lebih dulu, Sima,” ucap salah satu dari mereka mewakili membalas sapa.
“Iya, tidak apa-apa,” jawab Sima tenang. Ia memang tidak masalah meski datang lebih akhir, toh upah yang diberi tetap sesuai hasil yang kita dapat.
Hari ini kesibukan di rumah Bu Lurah ialah menimbang hasil panen cabai yang dikemas per-kilogram ke kantong plastik.
“Sima, saat anak-anak lain memilih ingin bekerja setelah lulus ujian, kenapa mengizinkan Marlin untuk kuliah? Itu berat, loh!” ucap seorang ibu yang duduk bersebelahan dengan Sima.
“Mau gimana lagi, itu keinginan anak, Bu.” Sima berusaha tenang agar tidak terprovokasi.
“Prapto saja yang orang tuanya punya banyak tanah juga menuruti keinginannya untuk tidak kuliah. Dengar, Sima. Daripada Marlin nanti tidak sampai lulus, kan lebih kasihan,” lanjutnya lagi. Kali ini Sima hanya memilih untuk senyum dan diam saja. Tidak akan ada habisnya membalas omongan orang-orang. Meski yang mereka katakan cukup ada benarnya, tapi sama seperti Bu Ningsih yang tidak bisa memaksa Prapto kuliah, Sima pun tidak mampu menahan keinginan Marlin untuk mengenyam bangku perguruan tinggi.
“Prapto dan Marlin itu berbeda, jadi tidak perlu membanding-bandingkan. Nanti kalau Marlin dapat beasiswa, biaya kuliah tidak jadi semahal itu. Kita bantu doa saja, ya?” Bu Lurah muncul dengan narasinya yang panjang, tapi sungguh bertenaga untuk membuat semua orang mengangguk-anggukkan kepala. Sima hanya balas tersenyum pada Bu Lurah, mengatakan terima kasih dari sorot mata yang hanya bisa diartikan keduanya.
***
Di dalam kamar yang hanya muat satu orang, Marlin kembali sibuk memecahkan soal-soal latihan Ujian Nasional. Besok hari yang akan menentukan impiannya sampai mana. Jika berhasil lulus dengan nilai sempurna, Marlin akan benar-benar mengikuti tes masuk ke universitas.
Tok! Tok! Tok!
“Marlin!”
Suara ketukan pintu bersahut dengan panggilan namanya, membuat Marlin mempertajam sisi pendengaran. Ia yakin, itu bukan suara Sima. Lagi pula, sekarang belum waktu ibunya pulang.
Dengan langkah ringan, Marlin berjalan menuju keluar, begitu membuka pintu ia cukup terkejut melihat keberadaan Santi, orang yang tidak seasing suaranya.
“Kamu sibuk, ya?” tanya Santi sembari lebih dekat padanya. Marlin berdeham sesaat, mengembalikan seluruh fokus di kepala.
“Besok ujian, tentu saja aku sibuk belajar. Apa yang kamu lakukan di sini?” balas Marlin nyaris lidahnya belibat.
Santi terkikik geli melihat Marlin tampak salah tingkah di depannya. Kedua pipi chubby miliknya samar-samar bersemu merah. Marlin memperhatikan semua itu, tidak biasanya ia berinteraksi dengan lawan jenis, jadi kedatangan Santi kali ini membuat Marlin cukup kikuk.
“Boleh aku masuk?” tanya Santi sebelum memberi jawaban pada Marlin.
“Ibuku tidak di rumah,” jawab Marlin sedikit menoleh ke belakang. Selain itu, rumahnya yang berantakan tidak layak menyambut tamu semanis Santi, kan?
“Kalau begitu, kita duduk saja di sini,” balas Santi sembari duduk di tepi emperan tanah rumah Marlin. Mulut Marlin yang hendak menahan niat Santi kalah cepat dengan kelincahan gadis itu.
Santi duduk santai seraya meluruskan kedua kaki tanpa merasa risih bersentuhan langsung dengan tanah. Meski tidak ada sampah berserakan, tetap saja, lantai tanah ini akan mengotori bagian belakang celana dan ujung rambut panjangnya.
“Duduk sini, ayo bicara sebentar,” seru Santi sekali lagi karena Marlin hanya diam di tempat.
Disaat begini, muncul perasaan tidak nyaman di benak Marlin. Sebagai laki-laki, rasa malu itu lebih dulu menyusuri relung. Meski berusaha menahan diri, tapi pada akhirnya saat-saat seperti ini akan terjadi juga. Apalah Marlin si anak miskin ini?
Meski ragu, Marlin menuruti Santi untuk ikut duduk di sebelahnya.