Marlin sedikit menggertak dan menatap tajam pada Pak Imam. Tapi, lelaki itu membalasnya dengan buang tawa kecil meremehkan.
“Heh anak nakal! Kamu bilang ingin kuliah, kan? Kamu pikir ibumu yang janda ini punya duit?” seru Pak Imam dengan nada jengkel. “Bukan mau meringankan, malah tambah ingin jadi beban buat ibumu,” lanjut Pak Imam. Kali ini pandangannya beralih pada Sima dengan sorot yang berbeda.
Pak Imam juga saksi hidup bagi Sima. Ia sangat tahu betapa menderitanya Sima selama ini. Ia sangat ingin menikahi wanita itu, tapi Sima selalu menolaknya. Siapa lagi yang jadi alasan kalau bukan si Marlin?
“Jika menikah denganku, paling tidak kamu bisa mengirim Marlin ke kota untuk kuliah. Kenapa keukeuh ingin hidup miskin, Sima?” tanya Pak Imam terdengar dramatis. Tapi, Sima hanya berembus pelan. Ia sadar dan sangat tahu, menikah dengan Pak Imam juga bukan solusi untuk membantunya.
“Pak Imam sudah punya istri, kenapa ngotot ingin menikahi ibuku, ha?” tantang Marlin mendadak emosi mendengar kalimat dramatis yang keluar dari mulut lelaki itu.
“Saya tidak akan mengizinkan sampai kapan pun, jadi berhenti mengganggu ibu saya,” lanjut Marlin bertindak sebagai pelindung bagi ibunya.
“Marlin ... Marlin, kamu memang pintar. Tapi, pasti akan penuh kesialan,” balas Pak Imam membuat Marlin membulatkan mata.
“Sudah, cukup.” Akhirnya Sima bersuara. Sebagai ibu, dadanya nyeri mendengar orang lain mengatakan hal buruk pada putranya. Bahkan Tuhan pun merahasiakan segala takdir, kenapa Pak iman bicara seolah tahu apa yang akan terjadi pada Marlin? Sima merasa tidak terima, apa dia sengaja mengutuk?
“Kalau tidak ada hal penting biarkan saya pergi, Pak Imam,” lanjut Sima. Ia menoleh pada Marlin, anak itu sedang mengeratkan rahang kuat, menahan emosi. Sima tidak mau sampai Marlin membuat masalah fatal dengan Pak Imam.
Semua orang tahu bagaimana temperamentalnya Pak Imam. Selama ini, orang-orang di desa lebih banyak yang menghindarinya. Meski punya banyak aset maupun uang, bahkan saat mencalonkan diri sebagai Kepala Desa tahun lalu, Pak Imam kalah.
“Bukankah yang penuh kesialan itu Pak Imam?” balas Marlin dengan senyum miring yang membuat lelaki angkuh itu mengangkat sebelah tangan dan hampir memukul Marlin.
“Hentikan!” bentak Sima sembari menarik Marlin ke belakang tubuhnya.
“Kalau bukan karena ibumu, sudah kuhajar kamu!” ucap Pak Imam menahan diri. Ia mengembuskan nafas, lalu menyalakan mesin motornya kembali, lalu pergi.
Sima dan Marlin sama-sama mengikuti kepergian Pak Imam yang kian menjauh. Saat sosok itu telah hilang di tikungan ujung jalan, Sima melepas cekalan di tangan Marlin. Ia menoleh pada putranya yang langsung menundukkan pandangan.
“Ayo pulang,” ujar Sima membuat Marlin bernafas lega.
Sima berjalan di depan diikuti Marlin. Suasana terasa canggung dan angin yang sebentar lagi membawa hujan bertiup seakan ingin menghibur keduanya. Hanya saja, baik Sima maupun Marlin lebih memilih saling diam, perlahan membiarkan hal yang baru terjadi berlalu dan terlupakan. Begitulah mereka hidup selama ini, meski banyak permasalahan dan banyak yang perlu diperdebatkan, membiarkan semua selesai tanpa kata “baiklah” adalah pilihan terbaik agar hidup bisa terus berjalan baik-baik saja.
***
Detak jarum jam tidur bersahutan dengan irama nafas Marlin yang kini sudah terjaga. Ia bangun sejak pukul tiga pagi, tapi enggan untuk bergulat dengan buku pelajaran, materi ujian hari ini.
Marlin beranjak, membuka sedikit pintu kazebot kamarnya, mengintip untuk melihat apa sudah ada tanda-tanda Sima bangun. Kini adzan shubuh sudah berkumandang, biasanya sang ibu akan mulai sibuk di dapur. Masih terbayang kejadian kemarin, membuat Marlin ragu-ragu untuk menuju dapur lebih dulu.