MARLIN Story

Deasy Astari Dawangga
Chapter #5

BAGIAN 5

Di tempat lain, Sima sedang berada di ladang Bu Ningsih, ibunya Prapto. Matahari sudah meninggi, tapi ia masih semangat mengumpulkan ranting kayu. Kali ini, Sima memilih upah ranting kayu sebagai bayaran setelah membersihkan gudang di rumah Bu Ningsih.

Kedua tangan Sima tampak gesit menali ujung atas dan bawah ranting kayu yang terkumpul, “Akhirnya selesai juga,” ucap Sima seraya tersenyum puas. Kayu bakar di rumah hampir habis, beruntung hari ini sedang cerah, jadi ia tidak kesulitan mencari ranting kayu, meski banyak yang sedikit basah karena hujan kemarin.

Sima istirahat sejenak, di bawah pohon jambu mete yang lebat ia melihat hamparan langit yang tadi cerah kini mendung berdatangan.

“Akan turun hujan lagi,” ucap Sima pelan. “Apa Marlin sudah pulang?” lanjutnya bergumam sendirian. Ia menoleh pada sisa air minum di dalam botol bekas air kemasan yang ia minta dari rumah Bu Ningsih tadi.

“Sepertinya aku pulang saja.” Sima bangkit lalu mulai menggendong ranting kayu miliknya dengan jarit lompong yang selalu ia ikatkan di pinggang.

Selangkah demi selangkah membawa Sima keluar dari area ladang milik Bu Ningsih. Meski langit sudah berbaik hati mengganti panas dengan hawa sejuk dingin, peluh yang mengucur dari sela rambut kepalanya tetap nyaris tidak berhenti.

Sampai di pertigaan jalan, Sima melihat ibu-ibu seumuran dengannya sedang berkumpul dan asyik mengobrol ria. Tidak ada yang menyadari kehadiran Sima sampai ia menyapa lebih dulu.

“Mari, Bu!” ujar Sima mengalihkan perhatian mereka.

“Istirahat sini, Sima!” tawar satu ibu di sana.

“Sudah mau hujan ini, saya lanjut jalan saja,” tolak Sima dengan sopan.

Tidak ada yang mempermasalahkan itu, Sima terus berjalan sementara mereka lanjut bergosip. Samar-samar ia mendengar, ada yang berbisik begini, “Ibunya sudah susah begitu, eh punya anak kurang tahu diri.” Sima pura-pura tidak mendengar apa pun. Untung ia cepat pergi dari tempat itu, jika tidak pasti ia akan mendengar lebih banyak cacian untuk Marlin.

Sejak kabar Marlin yang ingin kuliah tersebar, banyak opini masyarakat terbentuk. Mereka bilang kasihan melihat Sima sehingga sering mengolok keinginan Marlin. Itulah kenapa Sima tidak pernah membalas saat ada yang bergurau mengatakan Marlin tidak tahu diri. Bagi Sima, asal Marlin tidak langsung mendengar sendiri, ia akan anggap semua itu bentuk penghiburan untuk dirinya sendiri.

Sima membuang tawa pelan, “Ibumu ini memang kelelahan, Marlin,” batinnya. Memang, sering kali Sima berharap Marlin mengurungkan niat untuk kuliah. Tapi, ternyata melihat anaknya itu murung lebih menyakitkan daripada rasa lelah yang selama ini ia tahan setiap hari.

“Lakukan sesukamu saja, Marlin. Ibu pasrah.” Begitulah pada akhirnya keputusan Sima. Siapa tahu, takdir Tuhan mungkin benar-benar bisa berputar untuk hidup mereka.

***

Marlin sampai di rumah, tapi keadaan masih sepi. Ia yakin ibunya masih bekerja entah di mana. Ia masuk dan segera berganti pakaian. Marlin merebahkan tubuh di atas ranjang beralaskan kasur tipis di kamarnya. Ia tersenyum mengingat kejadian hari ini sepulang sekolah, tepatnya suara Santi masih terngiang keras di kepalanya.

“Dia bisa saja,” ujar Marlin bergumam ria. Ia tidak menyangka hatinya akan menjadi selapang ini setelah mendengar ungkapan Santi tadi. Marlin tidak pernah begini dengan siapa pun, tapi tiap kali bertemu Santi ia cukup merasa senang.

“Lin! Marlin!” teriakan Sima dari luar membuyarkan semua bayangan di kepala Marlin. Ia buru-buru keluar, menghampiri ibunya.

Lihat selengkapnya