MARLIN Story

Deasy Astari Dawangga
Chapter #6

BAGIAN 6

Malam hari di meja belajarnya, konsentrasi Marlin terpecah. Sudah berkali dipaksa, tapi tetap saja otaknya tidak bekerja di sana.

“Apa yang kubicarakan tadi, sial!” gumamnya geram pada diri sendiri. Ia merasa sudah mengatakan hal aneh pada Prapto sore tadi.

“Marlin, buka pintunya!” Suara Sima semakin membuat Marlin uring-uringan. Sepertinya sang ibu juga ingin menanyakan apa yang terjadi tadi.

Haish!”

Marlin beranjak meski dengan langkah malas, ia membuka pintu kamar yang kini menjadi batas antara dirinya dengan Sima di luar sana.

“Lama sekali, sih!” ujar Sima dengan nada kesal. Di tangannya ada sepiring salak buah yang sudah dikupas.

“Kenapa tidak keluar untuk makan?” tanya Sima seraya menyodorkan salak yang ia bawa.

“Masih kenyang. Tumben ada buah?” tanya Marlin menatap heran buah salak yang tidak tampak menggugah selera, tapi cukup menarik minat Marlin untuk memakannya.

“Sudah makan saja. Mumpung salak lagi murah, jadi ibu beli buat kamu,” jawab Sima kini menampakkan senyum manisnya. Hanya saja mendengar kata murah semakin membuat Marlin berdecap sebal.

“Ibu, kenapa selalu beli barang murah, sih!” protes Marlin membuat sungut Sima kembali.

“Dasar anak nakal! Memang apa salahnya barang murah? Lihat, meski murah buah salak ini masih bagus. Kalau tidak mau sini, biar ibu makan semua sendiri!” balas Sima tidak kalah garang.

Marlin segera meraih piring ditangan Sima lalu buru-buru menutup pintu, takut Sima akan lebih banyak mengomel jika diladeni.

“Bersaing apa? Makan buah salak pun menunggu harga murah, sialan!” gerutu Marlin kembali teringat kata-kata Prapto yang makin dia sadari, makin membuatnya jengkel.

Marlin mulai menggigit pucuk buah salak dengan frustrasi.

“Memang bukan salahmu jika dijual dengan harga murah, yang salah adalah harga pasar yang menetapkan nilai murah padamu,” ujar Marlin menatap kasihan buah salak di tangannya.

Lihat selengkapnya