MARLIN Story

Deasy Astari Dawangga
Chapter #7

BAGIAN 7

Pulang dari sekolah, Marlin sedikit berlari melihat ada dua motor parkir di halaman rumahnya. Masih siang begini, apa yang terjadi? Pertanyaan itu muncul di kepala Marlin. Hanya saja, makin dia pikir, makin dadanya terasa berat.

“Ibu!” sebut Marlin keras tapi hanya tertahan di dalam mulut, tidak sampai keluar.

“Ada apa, Bu Ningsih?” tanya Marlin berusaha menyembunyikan perasaan cemas. Kebetulan ada ibu Prapto yang langsung bisa ia kenali.

“Marlin, akhirnya kamu pulang. Ibumu ...” ucap Bu Ningsih terputus-putus. “Jatuh, terpeleset di kamar mandi rumah saya,” jelas Bu Ningsih.

Dada Marlin bagai di hantam batu besar. Ia berjalan masuk dengan tubuh mulai gemetar. Selama ini, ia hampir tidak pernah melihat ibunya kesakitan. Marlin tidak bisa membayangkan bagaimana saat ibunya sakit begini. 

“Ibumu menolak di bawa ke puskesmas dan hanya minta diantar pulang,” sambung Pak Gunawan, suami Bu Ningsih.

Marlin tidak begitu mendengar apa yang mereka katakan. Ia sudah sibuk menenangkan diri, agar bisa melihat keadaan Sima dengan tegar.

Sima sedang duduk selonjoran di lantai semen rumahnya. Ia mengaba Marlin mendekat. Sima berusaha tersenyum, meski pinggangnya terasa mau patah. Ia jatuh terduduk, jadi bagian pinggang ke bawah rasanya ngilu.

“Kenapa jatuh begini?” tanya Marlin terdengar gagu. Jika tidak ingat umur sudah hampir lulus SMA, Marlin pasti menangis keras.

“Ibu tidak apa-apa,” jawab Sima tahu jika anaknya itu sedang amat khawatir dan ketakutan. Hanya dia yang Marlin punya, meski sikap Marlin selalu tampak dingin dan cuek, ia pasti tidak ingin hal buruk menimpa ibunya.

“Biar saya panggilkan tukang pijat, Sima,” ujar Bu Ningsih tampak merasa bersalah.

“Tidak perlu Bu Ningsih, saya baik-baik saja,” tolak Sima membuat Marlin tidak habis pikir. Padahal sudah sewajarnya Bu Ningsih tanggung jawab, karena Sima jatuh di rumahnya.

“Sima, kalau begitu, ini ada sedikit tambahan. Belikan obat oles untuk ibumu, Marlin,” ujar Pak Gunawan menengahi kedua wanita yang sama-sama merasa tidak enak itu. Ia menoleh pada Marlin dan menyelipkan lipatan uang lima puluh ribu di telapak tangannya.

“Pak Gunawan, Bu Ningsih. Maaf malah merepotkan kalian,” ucap Sima dengan pandangan sayu.

“Terpenting kamu segera pulih, Sima,” jawab Bu Ningsih mewakili.

Marlin melepas kepulangan Pak Gunawan dan Bu Ningsih tanpa kata. Setelah kedua motor itu menjauh, ia buru-buru ke dalam rumah. Hatinya sakit melihat Sima tampak lemas sekarang.

“Biar Marlin bantu ke kamar,” ucap Marlin nyaris hanya tercekat di tenggorokan. Di saat begini, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

“Tidak usah khawatir, ibu baik-baik saja,” ujar Sima menyadari kekhawatiran putranya. Marlin masih diam, ia bantu ibunya berbaring dengan sangat pelan.

Sima sedikit merintih sampai benar-benar bisa berbaring. Ngilu sekali rasanya. Rasa tidak nyaman di tubuh sungguh terasa menyiksa bagi orang yang tidak pernah merasa lelah seperti Sima.

“Ibu sudah makan?” tanya Marlin penuh perhatian, membuat Sima tersenyum haru. Meski tampak sebagai anak yang tidak punya kepedulian, Marlin sebenarnya anak yang amat hangat.

“Marlin! Assalamu’alaikum!”

Mendengar suara dari luar, Marlin dan Sima kompak saling pandang. Suara itu terdengar tidak asing bagi Marlin, tapi, ia ragu untuk menebak siapa. Membayangkan nama yang muncul di kepala, membuatnya menggeleng cepat.

“Sebentar, Bu.”

Lihat selengkapnya