“Sima!”
Satu panggilan mengusik Marlin yang kini fokus membaca di dekat ibunya. Setelah mengoles obat pada sekujur punggung hingga pinggang, Sima kembali beristirahat.
“Suara siapa, Marlin? Sepertinya Pak Imam,” ujar Sima sedikit khawatir.
“Pagi-pagi begini kenapa sudah ribut, sih!” kesal Marlin karena memang yakin jika di luar sana ada Pak Imam.
“Sima!” Suara panggilan kembali terdengar, kali ini diiringi ketukan pintu tidak sabar.
Marlin menghela nafas. Ia menimbang untuk membuka pintu atau tidak.
“Sudah biarkan saja, Marlin.” Sima masih tetap memilih untuk tidak berurusan dengan Pak Imam. Teringat pertemuan terakhir mereka pun kurang baik, ia tidak ingin melihat anaknya buat masalah dengan orang itu. Toh, semua orang di desa ini sudah tahu bagaimana sikap dan niat Pak Imam pada Sima dan sejak lama pula Sima tidak pernah mau menanggapi pria beristri itu.
“Ya sudah, biarkan saja,” ucap Marlin menyetujui pinta Sima. Ia juga tidak berminat untuk melihat wajah sombong Pak Imam lagi.
Sementara itu, di luar pintu rumah yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka, Pak Imam mati-matian menahan emosi. Ia yakin, pasti Marlin sengaja tidak menerima kehadirannya.
“Dasar anak nakal!” lirih Pak Imam sembari mengeratkan rahang kuat. “Awas saja kamu, Marlin!” lanjutnya penuh ancaman. Meski kata itu hanya tersampai di batin, tapi Pak Imam kini benar-benar murka.
Berkali mengentakkan kaki dengan kesal, Pak Imam akhirnya menyerah. Ia begini karena sangat khawatir pada Sima. Ia hanya ingin membawa wanita itu ke rumah sakit, tapi niatnya sungguh terhalang karena Marlin. Benar-benar sial! Pak Imam nyaris tidak bisa berhenti mengumpat.
“Kalau di rumah saja, kapan akan sembuh?” geram Pak Imam seraya menarik rambutnya sendiri dengan frustrasi.
Hampir lebih dari setengah jam menunggu, tapi tetap tidak ada tanda pintu akan terbuka, meski dengan perasaan dongkol, akhirnya Pak Imam memilih pergi.
Sementara itu, Marlin yang tetap sibuk membaca bukunya merasa lega saat mendengar deru suara motor makin menjauh.
“Akhirnya pergi juga,” batin Marlin menyunggingkan senyum kemenangan.