“Bu Sima?” panggil Santi seraya terus masuk ke dalam rumah yang pintunya tidak tertutup.
“Loh? Ternyata Prapto. Kukira siapa tadi tamunya, ternyata kamu,” ucap Santi begitu bergabung dengan ketiga orang lain di kamar Sima.
“Santi, kamu datang lagi. Senangnya,” ujar Sima karena tidak satu pun yang menyambut kedatangan gadis itu dengan baik.
Marlin maupun Prapto berusaha terlihat tenang. Mereka saling berpaling, meski keadaan masih tetap canggung.
“Bu Sima sudah membaik?” tanya Santi lagi. Hanya suara miliknya dan Sima yang mengisi situasi yang kini terasa “aneh”.
“Sudah. Terima kasih, ya. Obatnya sangat manjur,” balas Sima. “Kalian berbincang di luar sana saja. Saya mau tidur lagi,” lanjut Sima tidak ingin terlibat dalam kecanggungan mereka bertiga.
“Ayo, keluar.” Marlin berjalan lebih dulu, kemudian Santi mengikuti setelah sedikit melambaikan tangan pada Sima. Sementara Prapto, keluar paling akhir, karena otaknya masih sibuk mencerna apa yang kini sedang terjadi.
“Kalian duduk saja. Ada teh, biar aku buatkan,” ucap Marlin mempersilakan Santi dan Prapto mengisi dua kursi di rumahnya.
“Tidak perlu. Aku sudah mau pergi,” sela Prapto menghentikan langkah Marlin.
“Kamu sudah lama, Prapto?” tanya Santi masih terlihat santai. Membuat perasaan Marlin makin tidak enak.
“Kamu sering ke sini?” balas Prapto dengan pertanyaan. Sekali lihat, Marlin tahu Prapto sedang menahan diri untuk tidak emosi. Sebagai pria, Marlin memahami perasaan itu. Tapi, memangnya ada yang boleh disalahkan?
“Iya, sesekali aku mampir ke sini,” jawab Santi tanpa rasa bersalah. Kali ini, justru gadis itu sedang menoleh pada Marlin sambil tersenyum. Santi ternyata gadis yang berprinsip.
“Benarkah? Sepertinya hanya aku yang tidak pernah tahu itu,” ucap Prapto sedikit membuang tawa. Merasa miris pada diri sendiri, ia merasa dicurangi.