“Bu, Marlin mau ke sekolah sebentar, ya? Cari informasi,” ucap Marlin meminta izin. Sima masih tidur miring membelakanginya. Marlin menunggu, tapi tidak segera ada jawaban. Embusan napas ibunya tampak teratur, membuat Marlin yakin jika Sima masih tidur. Tanpa menunggu jawaban lagi, Marlin keluar. Meninggalkan Sima yang membuka mata, begitu sang anak berlalu.
Sima merasa tubuhnya mulai normal. Meski, masih sedikit ada nyeri saat bergerak, tapi ia memutuskan untuk bangkit perlahan-lahan. Ia tidak boleh terus-terusan berbaring di kamar, banyak hal yang harus ia kerjakan. Tepatnya, ia harus segera bisa bekerja lagi.
Sima berjalan ke dapur, semua tampak rapi dan bersih. Sepertinya Marlin melakukan tugasnya dengan baik. Ia berembus pelan, merasa bersyukur karena anak itu tidak mengeluh saat mengurusnya selama sakit. Mengingat kesabaran Marlin, membuat Sima makin semangat hari ini. Meski ia masih hanya akan di rumah seharian, tapi ia ingin melihat wajah bahagia Marlin saat tahu dirinya sudah baik-baik saja.
“Sima!” Panggilan dari luar membuat Sima berbalik dan berjalan pelan menuju depan. Ia membuka pintu, pandangannya membulat saat berbalas dengan mata Pak Imam di hadapannya.
“Kamu sudah sembuh?” tanya Pak Imam dengan senyum mengembang.
“Sudah, Pak Imam. Ada urusan apa?” jawab Sima mencoba bersikap biasa. Ia tidak mau menanggapi bentuk perhatian dari laki-laki di depannya itu.
“Apa harus punya urusan dulu baru bisa bertemu denganmu?” balas Pak Imam balik bertanya. Ia mengalihkan pandangan dengan nada sedikit merajuk, membuat Sima geleng kepala heran.
“Apa Marlin ke sekolah?” tanya Pak Imam baru menyadari anak yang sering membuatnya kesal itu tidak ikut muncul.
“Iya, mau cari informasi katanya,” jawab Sima sembari melangkah keluar melewati Pak Imam. Ia tidak mau mempersilakan laki-laki itu untuk masuk, hanya akan memicu fitnah dari para tetangga. Meski jarak rumah di tempatnya tidak banyak berdekatan, tetap saja telinga para tetangga selalu lebih cepat menerima kabar angin.
Pak Imam berdeham sekali, lalu mendekat ke tempat Sima berdiri.
“Aku lega melihatmu sudah pulih,” ucap Pak Imam terdengar pelan dan tulus. Tapi, Sima hanya membalasnya dengan anggukan kecil.
“Pak Imam, tolong jangan bersikap berlebihan pada saya. Kita ini hanya orang asing, rasanya tidak patut kalau Pak Imam sering datang ke sini saat saya sakit begini,” ujar Sima mencoba bicara yang selama ini ia keluhkan.
“Pak Imam juga punya istri. Bagaimana perasaannya jika dengar gosip buruk dari orang-orang tentang kita?” lanjut Sima saat lelaki di sebelahnya hanya diam mendengarkan.
“Ana sudah sadar diri sejak dulu, Sima. Bahkan dia memberiku izin untuk menikahimu. Kamu saja yang tidak pernah mau menoleh dengan benar,” balas Pak Imam. Ana adalah nama istrinya. “Ana tidak bisa memberiku keturunan. Jadi, dia pun merasa bersalah padaku,” lanjut Pak Imam tidak mengalihkan pandangan dari Sima.