Prapto sebentar menoleh saat Sima kembali meneruskan langkahnya ke ruang belakang. Ia menghela nafas pelan, sedikit menyesali perbuatannya. Meski ia seusia dengan Marlin dan pernah menjadi teman sekolah anaknya, Sima tidak pernah menganggapnya remeh. Sima selalu menempatkan Prapto lebih tinggi sebagai anak majikan. Begitu pula Prapto, meski Sima hanya buruh, ia tetap bersikap sopan, kecuali hari ini. Prapto kembali menghela napas. Ternyata berat juga bersikap abai pada orang yang nyaris setiap hari bertegur sapa.
“Prapto, kamu mau kemana?” tanya Bu Ningsih yang masih duduk santai di teras.
“Mau ke rumah Santi, Bu,” jawab Prapto seraya menurunkan motor besarnya ke halaman.
“Bukannya Santi sedang di sekolah? Tes masuk perguruan tinggi seperti Marlin?” lanjut Bu Ningsih bertanya.
“Prapto mau ketemu Pak Broto, kok.” Prapto segera pergi sebelum sang ibu kembali membandingkannya dengan Marlin. Bu Ningsih sering bilang, Prapto jadi anak kurang bersyukur karena tidak mau kuliah padahal ada biaya.
“Marlin saja nekad, kamu kok lempeng-lempeng saja jadi anak,” ujar Bu Ningsih entah sudah berapa kali. Mendengar ocehan ibunya, sering membuat kepala Prapto pusing. Jadi, ia lebih suka entah pergi ke mana asal tidak di rumah. Tempat favorit Prapto adalah rumah Pak Broto, ia senang sekali ngobrol santai dengan Bapak Santi itu.
“Assalamu’alaikum!” seru Prapto begitu turun dari motor. Prapto mengedarkan pandangan. Rumah Santi tampak sepi.
“Apa tidak ada orang?” gumam Prapto. Ia memilih untuk berbalik badan setelah menunggu beberapa menit tapi tidak ada sahutan.
Tiiiiinnn!
Bunyi klakson yang melengking membuat Prapto terenyak. Ia sebentar memegang dadanya yang sempat kaget.
“Ternyata kamu, Bagas.” Prapto mendecap kesal saat mendapati senyum miring dari temannya itu.
“Ngapain jam segini di sini? Santi masih di sekolah kali,” tanya Bagas dengan nada bergurau.
“Tahu!” jawab Prapto bersungut membuat Bagas tertawa.
“Ke warung aja, yuk!” ajak Bagas. Prapto tampak berpikir sebentar. Sebenarnya, kalau sampai ibunya dengar ia main sama Bagas bisa habis dia diceramahi sampai shubuh. Bu Ningsih cukup pilih-pilih pada siapa yang berteman dengan Prapto. Ia tidak suka anaknya bergaul dengan anak-anak yang terkenal nakal seperti Bagas.
“Ya sudahlah, ayuk!” jawab Prapto menyerah. Ia juga tidak tahu lagi mau ke mana. Mau langsung pulang pun bukan pilihan yang tepat.
Sepanjang jalan Prapto memilih mengekor di belakang Bagas. Suara motor Bagas yang berisik cukup menarik perhatian banyak orang. Karena ini di jalanan desa, sebenarnya tidak pantas berkendara pakai motor seperti milik Bagas. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Bagas sudah sangat dikenal sebagai anak-anak yang tidak bisa dinasehati.
“Kamu kapan sih bakal jadi sama si Santi? Keburu keduluan sama Marlin,” ujar Bagas memulai obrolan mereka di warung pinggir jalan yang masih sepi.
“Memang Marlin mau sama Santi?” tanya Prapto balik. Ia tidak suka Bagas selalu bahas ini saat mereka bersama. Membuat perasaannya pada dua orang itu makin tidak baik saja.
“Jangan pura-pura tidak tahu kamu, Prapto!” balas Bagas sembari tertawa.