MARLIN Story

Deasy Astari Dawangga
Chapter #13

BAGIAN 13

Mentari masih saja malu-malu menunjukkan diri. Beberapa hari ini benar-benar terasa dingin, membuat orang malas untuk beranjak dari kamar. Marlin juga masih meringkuk dalam selimut, sementara Sima mulai menyalakan api di dapur.

“Marlin, bangun!” panggil Sima dari belakang, sedikit membuat Marlin menggerutu karena memang masih sedingin ini untuk bangun. Tapi, alih-alih membiarkan panggilan Sima, Marlin pun segera memaksa diri bangun.

“Mau kemana hari ini, Bu?” tanya Marlin masih setengah menguap begitu sampai dapur.

“Mau ambil kayu di ladangnya Bu Lurah, mau ikut?” balas Sima membuat Marlin mengeluh putus asa.

“Dingin-dingin begini?” tanya Marlin kembali menguap sambil menggosokkan tangan ke lengan atasnya mengusir dingin.

“Tes kemarin bagaimana?” tanya Sima tanpa mengalihkan pandangan dari kesibukannya memotong kacang panjang.

“Tinggal menunggu hasilnya, mungkin minggu depan,” jawab Marlin seraya mengendikan bahu.

Sima hanya mangut-mangut saja, tidak lagi membahas itu. Lagi pun bukan pembahasan yang penting, tapi tekadnya untuk mendapat lebih banyak uang harus lebih besar.

“Apa saja yang kamu butuhkan nanti?” tanya Sima sedikit lebih pelan. Marlin tidak enak hati melihat wajah ibunya yang berubah sendu tiap kali membahas tentang masalah ini.

“Hasilnya belum ada, dipikirkan kalau sudah ada kepastian saja,” jawab Marlin seraya bangkit. “Ayo, biar kubantu mencari kayu,” lanjut Marlin membuat Sima tersenyum mendengarnya.

“Kalau begitu, Ibu akan buat bekal hari ini,” jawab Sima semakin semringah. Marlin membuang tawa melihat antusias ibunya. Memang jarang ia melakukan ini, jadi Sima pasti sangat senang.

Marlin menunggu Sima bersiap-siap di teras. Ia menghirup nafas dalam, mengembuskannya perlahan. Ia mengedarkan pandangan. Aroma asri dan ketenangan khas di pedesaan begitu menyeruak indra penciumannya. Terkadang, Marlin berpikir tidak ada salahnya menetap di desa ini dan hidup apa adanya. Tapi, saat ia menoleh ke pintu di belakangnya, Marlin pun sadar. Andai kehidupannya di sini sudah mapan, pasti Marlin memilih untuk tinggal selamanya dengan Sima. Sayang sekali, hidup mereka berada sangat jauh dari garis standar, jika dia tidak bergerak, kehidupan mereka juga akan begini seterusnya.

“Menyedihkan sekali,” gumam Marlin ingin menertawakan nasib pemberian Yang Kuasa.

***

Marlin mengekor pada Sima selama perjalanan ke ladang Bu Lurah. Ia sudah lelah sekali, ternyata ladangnya lumayan jauh keluar dari desa. Tidak heran, kenapa Sima lebih suka ke ladang Prapto daripada ke sini. Belum lagi nanti pulang harus bawa dua ikat kayu, karena Bu Lurah juga minta dibawakan.

Huft!” Helaan nafas Marlin seolah sampai untuk mengetuk pintu langit. Sima hanya tersenyum mendengarnya, tanpa menoleh ke belakang.

“Sebentar lagi sampai,” hibur Sima untuk ke sekian kali. Tapi, Marlin sudah tidak mau mendebat, hanya buang-buang tenaga. Lebih takutnya, nanti membuat Sima berpikir terbalik jika ia banyak menggerutu.

Mereka makin menjauh dari area pemukiman desa sebelah. Marlin tidak menyangka akan berjalan kaki sejauh ini. Dari arah berlawanan, matanya menangkap seseorang yang tidak asing. Orang itu juga berjalan kaki dan sibuk mendorong motornya yang mogok.

“Bagas?” gumam Marlin mendadak membuat perasaannya tidak enak. Ia berusaha agar pandangan Bagas tidak tertuju padanya. Tapi, terlambat. Sebelum Marlin berhasil menyembunyikan diri, Bagas sudah lebih dulu bertemu pandang dengan Marlin.

Wih! Tumben Marlin ikut, Bu Sima?” tanya Bagas basa-basi. Marlin memutar bola mata malas. Tidak berniat sok akrab dengan kawan yang memang tidak dekat itu.

“Oh, iya. Ini anaknya yang mau ikut,” jawab Sima tidak kalah ramah. “Kamu temannya Prapto, kan?” lanjutnya bertanya. Sima lupa siapa nama anak yang sedang ia ajak bicara, ia hanya ingat anak ini pernah main ke rumah Bu Ningsih.

“Benar, Bu Sima. Temannya Marlin juga,” jawab Bagas masih berpura-pura. Tapi, Marlin tidak tertipu. Hanya Sima yang tampak senang bicara dengan Bagas sekarang.

Lihat selengkapnya