Sima mengantar ke depan pintu saat Marlin berangkat ke sekolah pagi ini. Perasaannya campur aduk antara lega dan khawatir. Lega karena yang diinginkan anaknya terjadi, serta khawatir karena Marlin pergi dengan wajah murung yang seharusnya tidak dilakukan.
“Ada apa dengan anak itu?” gumam Sima seraya mengeluh. Ia selalu khawatir jika Marlin membuka hari dengan keadaan murung. Hanya akan membawa kesialan.
Dengan berat hati, Sima pun ikut keluar untuk mencari kerja. Semangatnya pun hilang karena sibuk mengkhawatirkan Marlin. Sayang sekali, hari ini tetap akan berakhir sia-sia jika tidak dimanfaatkan. Jadi, Sima lebih memilih menghirup nafas panjang, lalu mengembuskannya, dan mengulanginya beberapa kali hingga merasa tenang.
Mendung yang menggantung di atas langit seolah sedang bersiap diri kapan pun akan terurai menjadi rintik hujan yang menyebar ke seluas bumi. Bukan hanya di langit, di hati Sima pun tengah dirundung perasaan tidak pasti yang ia takutkan akan mengurai menjadi tangis. Sima menguatkan hati, tapak demi tapak ia lalui meski dengan langkah berat.
“Bu Sima!”
Panggilan seseorang membuat Sima memperhatikan sekitar. Ada seseorang yang berlari ke arahnya. Sima menyipitkan mata agar penglihatannya lebih tajam.
“Saya Rino, teman sekolah Marlin,” ucapnya memperkenalkan diri. Meski masih ragu dan belum ingat tentang anak ini, tapi Sima pilih menganggukkan kepala.
“Oh, iya. Ada apa, ya Rino?” balas Sima bertanya.
“Apa hari ini Marlin ke sekolah?” tanya Rino balik. Ia datang untuk memastikan sesuatu.
“Benar, ada pengumuman katanya,” jawab Sima. Sima memperhatikan Rino yang tampak berpikir keras. “Memangnya kenapa, Rino?” lanjut Sima bertanya.
“Eee ...” Rino merasa ragu atau tidak berani untuk menjelaskan pada Sima?
“Tidak apa, Bu Sima. Saya hanya tidak mengerti kenapa kami dipanggil di hari yang berbeda,” lanjut Rino berusaha membuat penjelasan dengan hati-hati.
“Benar begitu?” tanya Sima tampak terkejut dan bingung. Ia berusaha mengertikan apa kira-kira yang terjadi.
“Iya, Bu Sima.” Rino menjawab dengan wajah menunduk. Tidak enak untuk mengutarakan pemikirannya.
Kejanggalan besar muncul di benak Sima. Apakah mendung dan wajah murung Marlin benar-benar pertanda kurang baik? Sima menggeleng pelan. Berusaha untuk tidak mendahului keputusan takdir atas prasangkanya.
“Saya dipanggil ke sekolah kemarin, Bu Sima,” lanjut Rino setelah diam beberapa saat.
Sima menghela nafas sembari mengelus dada, berusaha untuk tetap tenang.
“Lalu hasilnya bagaimana?” tanya Sima menuju inti percakapan ini.
“Allhamdulillah, saya lolos, Bu Sima,” jawab Rino pelan. Sedikit ada senyum malu di wajahnya, tapi Sima tahu anak ini sedang sangat bahagia.
“Syukurlah. Selamat ya, Rino. Semoga Marlin pun pulang dengan kabar bahagia,” ucap Sima turut bersuka. Ia menampik perasaan buruk yang terus muncul di batin.
“Iya, Bu Sima. Saya pun berharap begitu,” balas Rino menunjukkan ketulusan, membuat senyum Sima tampak lega.
“Terima kasih sudah berteman baik dengan Marlin,” ujar Sima sekali lagi. Rino melebarkan senyum dan mengangguk dengan pasti pada Sima. Tidak ingin membuat perasaan sang ibu itu terbebani jika ia memutuskan untuk bicara lebih banyak.
***
Sementara itu, Marlin sedang menunggu Pak Herman di ruang BK. Masih ada rapat guru di sekolah. Ia terus bertanya-tanya, tumben Rino belum hadir, biasanya anak itu selalu lebih dulu darinya.
Klek.
Suara pintu terbuka membawa Marlin bangkit berdiri, menyambut pemilik ruangan yang sedang ia nanti.
“Oh, Marlin. Maaf harus menunggu, ya,” ujar Pak Herman seraya berjalan menuju meja kerjanya. “Duduk saja,” lanjutnya menyilakan Marlin.