MARLIN Story

Deasy Astari Dawangga
Chapter #15

BAGIAN 15

“Keluarga Marlin, silakan masuk,” ujar perawat begitu pintu terbuka. Sima dan Prapto gegas masuk ke ruangan tempat Marlin terbaring lemas di atas bangkar.

“Marlin!” seru Sima kembali meneteskan air mata. Ia memeluk tubuh Marlin sembari sesenggukan. Marlin ingin mengatakan pada ibunya agar jangan menangis, tapi tenaganya masih belum kuat.

“Bagaimana hasilnya, Pak?” tanya Prapto pada dokter yang menangani Marlin.

“Tensi darahnya sangat tinggi, mungkin ada sesuatu yang mengusik pikiran Marlin. Dia masih muda, seharusnya jangan sampai seperti ini. Ini cukup jadi gejala yang membahayakan,” terang dokter semakin membuat tangis Sima pecah.

Prapto menghela nafas kasihan melihat ke arah Marlin. Temannya itu tetap tampak dingin di saat begini. Meski Prapto tidak terlalu dekat dengan Marlin, tapi keberadaan Sima sering membuat keduanya saling terhubung.

“Kenapa anak muda sepertimu tiba-tiba darah tinggi? Ibumu saja masih kuat membopongmu sendirian,” ujar Prapto begitu dokter keluar. Kata-kata itu terdengar seperti ejekan, tapi tidak menyakitkan hati.

“Aku berhutang padamu,” ucap Marlin dengan suara pelan.

“Tentu saja, pastikan kamu membayar semuanya,” balas Prapto lalu ijin keluar pada Sima. Ia harus mengurus administrasi pengobatan Marlin.

“Sudah, jangan bilang apa-apa dulu. Istirahat saja,” ucap Sima menghentikan gerak bibir Marlin yang ingin mengatakan sesuatu. Kedua mata Marlin kembali berkaca-kaca. Disaat begini, ia merasa sangat membebani ibunya.

Begitu Marlin tertidur, Sima keluar sebentar hendak mencari keberadaan Prapto. Tapi, saat mengedarkan pandangan, ia sudah tidak menemukan anak itu di sekitar puskesmas. Bahkan Sima mencarinya sampai luar.

“Bu Sima!”

Sima menoleh mendengar namanya dipanggil. Ternyata Santi, anak itu datang dengan nafas memburu dan hampir jatuh di depan Sima.

“Santi, hati-hati.” Sima membantu gadis itu berdiri tegak. Santi sudah hampir menangis di tempat. Sima terenyuh, ternyata anak ini sangat peduli pada Marlin.

“Marlin sudah bisa tidur, tidak lama pasti diizinkan pulang,” ucap Sima berharap sedikit menghibur gadis di depannya.

Santi memeluk erat tubuh Sima, membuat wanita itu terkejut. Tapi, bukan menjauhkan diri. Sima justru membalas pelukan Santi dengan hangat. Bisa jadi, Santi pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasa. Rasa khawatir yang berubah menjadi rasa takut, itu sangat menyakitkan.

Santi dan Sima bersama ke dalam ruangan Marlin. Saat mereka masuk, Marlin sudah bangun dari tidurnya. Ia duduk dan tampak terkejut melihat Sima datang bersama Santi.

“Kamu sudah bangun? Masih lemas?” tanya Sima seraya  mengelus pelan pelipis Marlin.

“Aku sudah membaik, Bu.” ucap Marlin seraya mengalihkan pandangan pada sosok Santi yang juga terlihat lega melihat perkembangannya.

“Dari siapa kamu tahu?” tanya Marlin. Sima ikut menoleh pada gadis di belakangnya.

“Prapto datang dan memberitahuku kalau kamu di sini,” jawab Santi jujur. Prapto datang ke rumahnya untuk memberitahu keadaan Marlin.

Marlin hanya berembus pasrah mendengar cerita Santi. Ia tidak menyangka Prapto akan melakukan itu untuknya. Setelah semua yang terjadi, kesalah-pahaman yang muncul diantara mereka, mustahil Prapto tidak membenci Marlin. Untuk kali pertama, ia sadar memang ada orang senaif Prapto.

“Ibu tinggal keluar dulu, ya.” Sima memilih sadar diri dan pergi. Ia yakin ada sesuatu yang harus mereka selesaikan sendiri.

Situasi mendadak canggung setelah Sima pergi. Santi dengan langkah ragu makin mendekat ke tempat Marlin. Tatapan laki-laki itu seolah mengunci pandangannya, Santi terus menundukkan wajah seperti sedang dihakimi, padahal Marlin tidak menuduhnya apa-apa.

“Santi?” panggil Marlin agar gadis itu mengangkat pandangannya.

Lihat selengkapnya