MARLIN Story

Deasy Astari Dawangga
Chapter #16

BAGIAN 16

Hari perpisahan kelas tiga tiba. Seluruh siswa seangkatan bersuka cita menyambutnya. Meski hanya mengundang grub penyanyi daerah yang harga jobnya tidak seberapa, anak-anak sangat menikmati suasana kemenangan mereka. Di sekolah Marlin, sudah turun temurun tidak ada wisuda bagi lulusan kelas tiga, sebagai bentuk pelepasan terhadap muridnya, sekolah hanya mampu memberi konser sederhana bagi mereka.

Marlin sedikit menghindar saat teman-temannya maju untuk berjoget bersama. Ia termasuk anak yang tidak suka melakukan hal-hal seperti ini. Andai bisa pergi lebih dulu, pasti Marlin sudah keluar sebelum acara dimulai. Alunan musik campur tidak menghiburnya sama sekali.

“Marlin, kamu tidak ikut ke depan?” tanya Rino cukup membuat Marlin terkejut. Ia tidak sadar sejak kapan anak itu ada di sebelahnya.

“Tidak,” jawab Marlin seperlunya. Ia kembali menatap ke depan, ke arah segala riuh itu berkumpul. Namun, dengan pikiran yang sangat jauh dari tempat itu. Marlin hanya tidak ada pilihan untuk memperhatikan hal lain.

“Bagaimana rencanamu setelah ini?” tanya Rino masih bertahan di sisi Marlin.

“Pergi saja ke kota. Itu tempat paling aman untuk memulai,” lanjut Rino membuat Marlin berembus pelan. Saat menoleh, Rino hanya melebarkan senyum hingga membuat kedua matanya menyipit.

“Akan kupikirkan nanti,” jawab Marlin sembari kembali mengalihkan pandangan. Ia berharap, jawaban itu cukup membuat Rino untuk menjauh darinya. Disaat begini, ia tidak mau membicarakan hal semacam itu.

Marlin menyadari kepergian Rino, seperti yang ia harapkan. Temannya itu terus berjalan hingga keluar dari area acara.

“Mau kemana dia?” gumam Marlin melihat punggung yang semakin jauh dari jangkauannya. Tapi, hanya sampai itu, selebihnya Marlin tidak lagi peduli. Melihat keberadaan Rino selalu membuatnya ingat saat-saat dirinya gagal, membuat Marlin tidak nyaman. Ada sedikit rasa cemburu di hatinya, itu tidak bisa dipungkiri. Prestasi Marlin secara akademik di sekolah jelas lebih unggul dibanding Rino, tapi kenapa ia malah gagal?

Pertanyaan itu kembali berputar di kepala Marlin, membuat kepalanya terasa berat. Satu tangannya berpegangan pada tiang penyangga terop, ia seperti akan pingsan lagi. Sebelum itu terjadi, Marlin buru-buru menghirup nafas dalam dan mengembuskannya secara perlahan.

“Tenang,” gumamnya berusaha agar tetap sadar dan pusing di kepalanya hilang. Marlin ingat, dokter memintanya agar tidak stres. Artinya ia harus menjaga pikiran agar darah tingginya tidak kambuh.

Perlahan Marlin melangkah, meski terasa berat tapi ia ingin menjauh dari kebisingan di sekitarnya. Ia terus menggumamkan kalimat sugesti agar tubuhnya tetap kuat dan tidak jatuh pingsan. Marlin tidak mau sampai dilarikan lagi ke rumah sakit, itu hanya akan menyulitkan Sima.

“Marlin!”

Lihat selengkapnya