Adzan shubuh baru saja selesai berkumandang, Marlin bangun lalu berjalan menuju dapur di mana Sima sudah sibuk sendirian di sana. Ia berhenti sebentar saat melihat ibunya sesekali terbatuk saat meniup api agar menyala di dalam tungku. Ia menghela nafas, merasa kasihan pada ibu yang diusianya sekarang masih harus hidup sesusah ini.
“Biar Marlin saja,” ucap Marlin seraya mendekat. Membuat Sima sedikit bergeser dari tempatnya.
“Kenapa bangun? Istirahat saja dulu,” balas Sima kembali terbatuk beberapa kali. Karena kemarin Marlin pulang sekolah diantar gurunya, ia khawatir anaknya itu belum sehat sepenuhnya.
“Marlin sudah sehat, kok,” jawab Marlin lalu fokus menyalakan api.
“Kenapa kamu sering pingsan akhir-akhir ini, Marlin?” tanya Sima merasa terluka. Perlahan tangannya menyentuh punggung Marlin, mengelusnya naik-turun dengan sayang. Sima berusaha menahan air mata agar tidak jatuh bebas di hadapan anaknya.
“Jangan sakit begitu, ibu jadi takut,” lanjut Sima sudah dengan suara serak. Mendengar itu, Marlin hanya berembus pasrah. Ia sadar kekhawatiran Sima, tapi Marlin tidak suka melihat ibunya sering menangis begini.
“Marlin tidak akan sakit lagi. Sudah jangan menangis,” ucap Marlin tak acuh.
Sima berpaling lalu bangkit menjauh dari Marlin. Air matanya kembali ia tahan. Menangis di depan Marlin yang punya hati dingin itu tidak akan membantunya untuk tenang. Padahal Sima sangat tahu, banyak sekali yang ada di pikiran Marlin. Anak itu hanya tidak terbiasa untuk menunjukkan emosi melalui kata.
“Ibu sudah membayar ganti biaya pengobatan kamu pada Prapto, jangan terbebani karena itu,” ucap Sima membuat Marlin cukup terkejut.
“Ibu punya uang?” tanya Marlin dengan tampang tidak berdosa, membuat Sima berdecap sebal.
“Kamu kira ibumu ini tidak punya simpanan,” balas Sima kembali buang muka.
Marlin masih tidak menyangka, tapi ia merasa lega jika benar begitu.
“Oh iya, Marlin.” Sima teringat sesuatu. Ia ingin mengatakan ini pada Marlin. Sima pun kembali mendekat dan duduk di dekat anaknya.
“Kenapa?” tanya Marlin sedikit menjaga jarak karena Sima terlalu dekat.