MARLIN Story

Deasy Astari Dawangga
Chapter #18

BAGIAN 18

Malam masih dingin seperti biasa. Apalagi di luar sedang gerimis kecil, menambah suasana terasa lebih nyaman berada di kamar. Namun, Marlin justru bangkit dari posisi rebahannya. Setelah isi kepala menimbang banyak hal, kini ia punya keputusan untuk dikatakan pada Sima.

Marlin berjalan menghampiri Sima yang masih duduk di ruang tamu dengan selimut jarit usang membalut setengah tubuh.

“Kamu belum tidur?” tanya Sima saat Marlin menghampiri.

“Belum. Ada yang ingin Marlin katakan,” jawab Marlin.

Sima memperhatikan anaknya sebentar. Marlin tampak siap dengan apa yang ingin ia sampaikan, tidak ada gerak-gerik ragu.

“Ayo, duduk,” ajak Sima lanjut berjalan ke arah kursi ruang tamu. Marlin mengikuti tanpa protes.

“Aku akan pergi ke kota provinsi,” ucap Marlin seiring gerimis di luar sana berubah turun menjadi bulir air yang lebih besar. Sima cukup terkejut mendengar perkataan itu, lebih tepatnya tidak menyangka Marlin sudah memutuskan untuk pergi ke kota yang cukup jauh.

“Kamu yakin?” tanya Sima menatap dalam pada sang anak.

Marlin perlahan mengangguk. Ia memutuskan untuk mengambil kesempatan yang ditawarkan Pak Herman padanya.

“Besok aku akan menemui Pak Herman. Beliau yang akan membantuku,” jelas Marlin dengan singkat.

“Jadi gurumu itu yang menawarkan?” tanya Sima lebih tidak menyangka. Antara tenang juga khawatir berbaur menjadi satu.

“Benar. Kata Pak Herman, aku bisa kuliah sambil bekerja. Biaya hidupku juga akan ditanggung,” tambah Marlin memberi penjelasan.

Sima tampak menutup mata sebentar. Membuat Marlin harap cemas menunggu jawab yang akan diberikan. Hujan di luar sana juga terdengar makin deras, hawa dingin makin terasa menusuk sampai ke tulang karena Marlin hanya mengenakan kaos tipis yang sudah usang.

Lihat selengkapnya