MARLIN Story

Deasy Astari Dawangga
Chapter #19

BAGIAN 19

Marlin mengikuti Pak Wawan turun dari bus di terminal kota provinsi. Aroma bahan bakar dan suara bising kendaraan langsung menyapa hidung dan pendengaran Marlin. Ia terbatuk sesaat, baru sampai saja Marlin sudah bisa merasakan perbedaan yang begitu jauh dari lingkungan asalnya yang masih asri dengan nuansa alam.

“Tidak buru-buru, kan? Ayo cari makan dulu,” ajak Pak Wawan tapi Marlin dengan malu-malu menolak.

“Saya sudah dibawakan bekal oleh ibu, Pak.” Marlin tersenyum sungkan melihat ekspresi tidak menyangka yang tampak di wajah Pak Wawan.

“Benarkah? Wah, kamu punya ibu yang penuh perhatian. Boleh saya ikut makan?” ucap Pak Wawan sedikit membuat Marlin ragu untuk menjawab. Pak Wawan sepertinya orang berada, melihat setelan pakaian yang ia kenakan. Meski setelan santai, tapi tampak rapi dan menunjukkan wibawanya. Ditambah topi hitam yang ia pakai, meski Pak Wawan tidak mengaku sekalipun, Marlin tetap yakin ia pasti dari kalangan orang kaya.

“Kebetulan ibu membawakan dua bungkus, sepertinya ibu punya firasat saya akan makan dengan Bapak,” jawab Marlin tampak tersenyum malu membuat Pak Wawan tertawa.

Seketika keadaan tidak lagi menjadi canggung. Bersama Pak Wawan sekarang mengingatkan Marlin pada sosok bapak yang sudah tiada. Rindu ingin sekedar bicara atau bercanda dengan sosok bapak yang selama ini ia tahan, akhirnya terobati berkat kehadiran Pak Wawan hari ini. Marlin merasa lebih semangat untuk menyambut hari-harinya di kota yang jauh dari sang ibu berada.

“Ini lauk kesukaan saya. Meski tampilannya tidak meyakinkan, tapi rasa masakan ibu selalu enak. Semoga Pak Wawan suka,” ujar Marlin seraya menyerahkan satu bungkus nasi bekal yang ia bawa pada Pak Wawan. Sima cukup ahli membungkus makanan, jadi tampilan luarnya tampak seperti nasi bungkus yang dibeli di warung.

“Kamu benar. Ini sangat nikmat,” ucap Pak Wawan begitu menyuap nasi dan lauk oseng kacang ke mulutnya.

Marlin tersenyum senang dan ikut menikmati bekal yang dibuat Sima sepenuh hati. Sesekali ia melirik pada Pak Wawan, meski makan dengan tangan, dia tidak tampak jijik. Benar-benar sosok yang rendah hati.

***

Sementara itu, kini Sima duduk sendiri di teras rumah sembari memeluk selembar kertas yang diantarkan Pak Herman tadi kepadanya. Merasakan seolah Marlin yang ada di dekapannya. Ia tidak menyangka, belum ada sehari di tinggal sang anak, hati Sima sudah terasa begitu hampa.

“Marlin, maafkan ibu yang sudah merindukanmu,” batinnya menangis. Seperti ada yang hilang dari separuh kehidupannya. Sima tidak mengerti kenapa ia terus menangis sejak tadi. Padahal, kesedihan ini bisa saja membuat langkah Marlin terhalang.

Sima berusaha untuk tenang. Berkali ia berembus pelan hingga tangisnya reda. Ia kembali membuka lipatan kertas di tangannya, membaca ulang untuk kedua kali.

Ibu, ini Marlin. Maaf tidak sempat berpamitan dengan benar. Maaf tidak sempat memeluk ibu sebelum berangkat. Tapi, Marlin sungguh-sungguh mengharap restu dari ibu.

Marlin akan menjaga diri, menjaga kesehatan, dan makan dengan nasi hangat setiap hari. Jadi, jangan khawatir. Pastikan ibu juga sehat dan makan dengan baik di rumah.

Marlin akan berusaha secepatnya bisa membeli handphone agar segera bisa komunikasi dengan ibu. Jadi, doakan Marlin, jangan menangis di rumah. Marlin tidak suka melihat ibu bersedih.

Tolong jaga diri baik-baik, sampai Marlin pulang, kembali ke rumah yang selalu Marlin rindukan karena ada ibu di sana.

Ibu, aku menyayangimu.

Sekali lagi, Sima mengelus surat yang kini menjadi benda paling berharga dalam hidupnya. Marlin yang tidak pernah berkata-kata banyak itu ternyata bisa menulis sepanjang ini.

Lihat selengkapnya