MARLIN Story

Deasy Astari Dawangga
Chapter #21

BAGIAN 21

Pagi cepat sekali datang. Semalam Marlin sudah dijelaskan bagaimana rutinitasnya setiap hari mulai sekarang. Pagi ini ia akan bekerja di toko tas dan sepatu milik Pak Yusuf. Ada dua toko, jadi masing-masing toko berisi dua orang. Jam kuliah sudah ditentukan, Marlin ambil di jam pagi, sementara yang satu ambil sore hari. Begitu pola shift yang akan ia jalani. Karena saat ini belum waktu aktif kuliah, jadi Marlin akan ikut ke toko untuk mempelajari semuanya.

“Marlin akan jadi satu tim dengan Satrio di toko dua. Sementara Danang tetap dengan Wira di toko satu,” ujar Pa Yusuf pagi ini memberi pengumuman. Semua tampak menyimak dengan baik.

“Satrio, ajari Marlin dengan baik,” tambah Pak Yusuf.

“Baik, Pak.”

Setelah itu mereka berangkat bersama. Ada dua motor yang disediakan, jadi mereka naik berboncengan ke toko.

Hari pertama, Marlin masih merasa sungkan, tapi ia tetap belajar cara berjualan dengan cepat. Ia belajar cara mencari stok barang di gudang toko, menata etalase, dan menghafalkan beberapa kode harga yang ditetapkan toko. Menghafalkan kode ini satu-satu yang harus dihati-hati, karena banyak banderol harga yang ditulis berdasarkan kode.

“Hafalkan, jangan sampai salah menyebutkan harga pada pembeli. Nanti rugi, jatah bulananmu tidak keluar,” jelas Satrio seraya tertawa. Marlin jadi punya pertanyaan.

“Jatah bulanan? Jadi kita tetap digaji?” tanya Marlin dengan mata penuh harap. Ia kira mereka cukup dapat makan dan fasilitas untuk kuliah, Marlin tidak berpikir akan dapat jatah diluar itu.

“Bukan gaji, ya bisa disebut uang saku kita,” terang Satrio membuat Marlin mengangguk mengerti.

“Kamu sudah lama di sini?” tanya Marlin sembari merapikan etalase di hadapannya.

“Belum, masih bulan lalu,” jawab Satrio membuat Marlin berseru senang.

“Wah, jadi kita masih seangkatan?” tanya Marlin antusias. Ia kira Satrio sudah kuliah sejak tahun lalu seperti Danang dan Wira.

“Aku juga dicari karena pembukaan toko ini,” jelas Satrio lagi. Marlin mulai paham satu persatu lingkungan tempatnya berada kini.

“Em ... Satrio?” panggil Marlin mendadak berubah ragu.

“Ada apa?” tanya Satrio tanpa menoleh, karena dia juga sedang mencatat stok barang yang masih ada dan sudah habis di etalase.

“Kamu punya handphone?”  tanya Marlin malu. Ia sangat ingin menghubungi Pak Herman untuk memberi kabar pada Sima. Marlin ingin mengatakan pada ibunya, jika ia sudah sampai tempat tujuan dengan selamat.

“Tentu saja. Jaman sekarang siapa yang tidak punya itu?” jawab Satrio merasa heran dengan pertanyaan Marlin.

“Aku tidak punya.” Satrio menoleh dengan tatapan tidak percaya, tapi Marlin hanya senyum-senyum malu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Boleh pinjam?” lanjut Marlin mengatakan tujuannya.

“Kamu ini manusia abad berapa? Memang hidupmu tidak bosan tanpa media sosial?” ujar Satrio kembali menggeleng entah ke berapa kali.

“Ini! Ingin menghubungi keluargamu, kan?” tebak Satrio seraya menyerahkan android di tangannya.

Lihat selengkapnya