MARLIN Story

Deasy Astari Dawangga
Chapter #22

BAGIAN 22

Marlin sudah dipindahkan ke ruang rawat. Mira yang bertugas menemani Marlin sampai dia sadar, sementara Pak Wawan ditemani Nawa dan Rio tengah mengurus perjanjian dengan Pak Yusuf.

“Ternyata benar kamu, Marlin,” gumam Mira saat pertama kali melihat wajah Marlin begitu keluar dari ruang operasi.

Kini, Mira hanya diam memandangi wajah Marlin yang terpejam tenang. Perasaannya bercampur antara kasihan sekaligus senang. Senang karena orang yang berusaha ia dekati itu, sekarang berada tepat di hadapannya. Bahkan setelah hari ini pun, Marlin akan tinggal bersamanya. Mira tidak bisa menahan diri, membayangkan bagaimana reaksi Marlin saat tahu bahwa Pak Wawan adalah ayah Mira.

“Jangan lagi sok jual mahal padaku, Marlin,” ucap Mira sedikit tertawa pelan.

“Aku akan buat perhitungan karena kamu sudah memberiku nomor palsu,” lanjut Mira menyentil pelan jari Marlin karena gemas.

Mira belum mengatakan apa pun pada keluarganya jika ia dan Marlin sudah saling kenal. Nanti saja, itu akan jadi kejutan buat sang ayah. Mira tidak ingin terburu-buru, masih banyak waktu setelah ini.

Mira menggeliat sebentar. Tubuhnya kaku dan matanya terasa berat. Sejak kemarin, ia nyaris tidak bisa tidur. Jadi, wajar saja kini kantuk itu tidak bisa di tahan. Mira perlahan menaruh kepalanya di sisi tangan Marlin, lalu tertidur tanpa ia sadari.

Bunyi monitor tanda vital dan aroma bius mendominasi seluruh ruangan. Aroma rumah sakit selalu membuat Mira ingin menutup mata. Bahkan kini ia sangat lelap, sehingga tidak menyadari saat ada kedatangan perawat yang mengontrol infus Marlin.

Kedua perawat itu kompak diam, berusaha tenang agar tidak mengganggu istirahat Mira. Karena mereka juga hanya sebentar. Setelah mengganti infus dengan yang baru, mereka pun kembali keluar.

Ujung telunjuk Marlin bergerak saat ruangan itu terasa sunyi. Satu kali, dua kali, sampai akhirnya Mira merasakan pergerakan itu. Mata Mira terbuka lebar, menyadari pergerakan yang terjadi pada Marlin. Ia buru-buru berdiri, melihat apa Marlin sudah bisa membuka mata.

Kelopak mata Marlin juga mengerjap beberapa kali, membuat senyum Mira mengembang sempurna. Tanpa pikir panjang, Mira buru-buru memanggil dokter agar memeriksa keadaan Marlin.

“Dokter!” seru Mika saat pintu geser di ruangan Marlin sudah ia buka.

“Marlin sadar,” lanjutnya memberitahu dokter yang masuk dengan semangat.

Dokter diikuti dua perawat segera memeriksa Marlin. Sementara Mira juga ikut mengamati dari jarak yang tidak terlalu dekat. Betapa senang saat ia tahu Marlin sudah membuka mata.

“Benar, keadaannya sudah stabil,” ucap dokter seraya menoleh pada Mira. Ia mengizinkan Mira untuk mendekat.

“Marlin?” panggil Mira pelan. Tidak disangka, ia terharu melihat Marlin sekarang.

Pandangan Marlin masih tampak lemah. Mira mendekat, mencoba agar dirinya bisa dikenali Marlin lebih dulu. Tapi, saat mata Marlin berpaling, Mira jadi bertanya-tanya.

“Marlin, kamu bisa mengenaliku?” tanya Mira makin mendekatkan diri.

Perlahan bibir Marlin bergerak hendak menjawab, membuat Mira hampir tidak bisa menahan diri.

“Kamu siapa?” Suara Marlin begitu pelan dan lemah. Tapi, berhasil membuat jantung Mira seperti berhenti berdetak. Kenapa pertanyaan seperti itu yang keluar dari mulut Marlin?

“Dokter?” Mira menoleh pada dokter di seberangnya dengan perasaan khawatir. Dokter pun merasakan hal yang sama. Kenapa Marlin tidak ingat?

“Kami akan melanjutkan pemeriksaan lebih lanjut,” ucap dokter membuat perasaan Mira makin tidak tentu.

Mira keluar ruangan. Membiarkan dokter memeriksa keanehan yang terjadi pada Marlin.

“Apa Marlin lupa ingatan?” batin Mira sendiri. Tapi, ia buru-buru menggeleng. Tidak mau perasaan buruk itu benar-benar terjadi.

***

“Saya rasa Marlin sudah pernah menunjukkan tanda-tanda penyakit ini sebelumnya, Demensia. Efek kecelakaan yang menimpanya, bisa dikatakan memperparah kondisinya.” Dokter berusaha menjelaskan dengan sederhana.

“Trauma berat di kepala, bisa mempercepat Marlin lupa ingatan seperti saat ini,” lanjut dokter membuat hati setiap orang di ruangan itu berdesir kasar dan tidak nyaman.

“Meski tanpa kecelakaan, ingatan Marlin tetap kian memburuk, itu sudah menjadi takdirnya.” Sekali lagi, kata-kata dokter hanya membuat keluarga Pak Wawan putus asa.

“Ini akan berat, Pa,” ucap Nawa seolah mengingatkan sang ayah akan semua risiko di masa depan.

Lihat selengkapnya