“Bagas, jaga bicaramu. Bu Sima sedang sakit!” geram Santi setelah perjalanan jauh mereka, Bagas langsung menuju ke rumah Sima.
Bagas menampik tangan Santi yang terus berusaha menahan langkahnya, motor berhenti di halaman rumah yang tidak pernah ia datangi selama ini. Bagas sudah cukup jengah karena Santi sengaja memanfaatkannya hanya untuk bertemu Marlin.
“Assalamu’alaikum, Bu Sima!” panggil Bagas di depan pintu rumah yang tertutup. Tidak memedulikan Santi yang uring-uringan di belakangnya.
Kriett!
Bunyi suara pintu kayu yang dibuka perlahan dari dalam. Dada Santi terasa jatuh saat melihat Sima yang terbatuk beberapa kali di depan mereka.
“Waalaikumsalam, loh? Ada Santi dan Bagas, ya? Ayo masuk,” ajak Sima mempersilakan.
Santi tampak gugup, tapi karena Bagas sudah masuk. Mau tidak mau ia pun mengikuti ke dalam rumah yang punya beberapa ingatan istimewa di kepala Santi. Sayang sekali, ia harus masuk lagi ke rumah ini bersama Bagas dalam kesempatan yang sepertinya tidak tepat.
“Bu Sima, sudah mendengar kabar baru dari Marlin?” tanya Santi mendahului Bagas. Ia berusaha agar kedatangan mereka tidak akan membuat hati Sima terluka. Jadi, sebisa mungkin Bagas tidak boleh banyak bicara hanya untuk mengkritik pertemuannya dengan Marlin tadi. Satu hari belum berlalu, tapi berkat kecepatan motor besar Bagas, mereka bisa membuat perjalanan jauh itu terasa dekat.
“Sudah lama, Santi. Sejak kali terakhir Pak Herman mengabarkan Marlin sudah sampai di tempat. Setelah itu, tidak ada lagi kabar apa pun,” jawab Sima dengan pandangan sedih.
Santi dan Bagas saling melempar tatapan, seolah apa yang sedang mereka pikirkan kini sama.
“Apa kalian dapat kabar tentang Marlin?” tanya Sima menyadari maksud kedatangan mereka. Tidak mungkin Santi dan Bagas menghampirinya tanpa ada sesuatu.
Santi menutup mulut rapat. Hatinya begitu berat untuk mengatakan apa yang kemungkinan terjadi pada Marlin.
“Kami pergi ke kota provinsi. Tidak sengaja bertemu Marlin, tapi anehnya dia tidak mengenali kami,” ujar Bagas membuat kedua mata Santi melebar.
“Bagas!” pekik Santi karena kini Sima tampak seperti orang linglung.
“Ma-maksud kalian apa?” tanya Sima tergagap. Santi mendekatinya, menggenggam tangan Sima agar kekuatan wanita itu pulih setelah terkejut karena omongan Bagas.