Marlin dan Mira menghadap ke ruang kerja Pak Wawan. Masih dengan hati berbunga, Mira terus bergelayut di lengan Marlin. Tidak menyangka, laki-laki itu mau cepat menuruti yang ia inginkan tentang pernikahan.
“Pa, kami ingin segera menikah,” ucap Mira menyembunyikan senyum malu.
“Apa yang anak ini katakan, Marlin?” tanya Pak Wawan merasa heran. Karena pernikahan mereka disepakati ketika empat tahun telah berlalu, dan sekarang masih sangat jauh dari waktu itu.
“Saya juga menginginkannya, Pak,” jawab Marlin membuat Pak Wawan makin membulatkan mata. Ia berpaling ke arah Mira, seperti bertanya apa kini Mira memaksa Marlin menuruti kemauannya? Pak Wawan sangat tahu tabiat manja putrinya, Mira juga tidak jarang membuat keputusan sesuka hati.
“Marlin, keluarlah lebih dulu. Ada yang ingin kubicarakan dengan Mira,” ujar Pak Wawan tidak serta merta langsung menurut, membuat Mira mengeluh putus asa.
Marlin menoleh sebentar pada Mira. Meski setengah tidak rela, tapi Mira menganggukkan kepala. Tanda setuju agar Marlin keluar sesuai perintah Pak Wawan.
“Kenapa tiba-tiba?” tanya Pak Wawan dengan suara mengintimidasi putrinya. “Apa sudah ada perkembangan tentang ingatan Marlin?” lanjutnya bertanya.
Mira tidak segera menjawab. Jika mengatakan ada orang yang menemui Marlin di toko, apa Pak Wawan akan mencari orang-orang tersebut untuk dipertemukan lagi dengan Marlin? Mira menggeleng pelan. Membayangkannya saja, ia tidak rela Marlin bertemu dengan wanita itu.
“Tidak. Kami hanya ingin mempercepat pernikahan, itu saja, Pa. Kenapa Papa curiga sekali pada Mira,” keluh Mira memutuskan untuk menutupi semua yang terjadi.
Pak Wawan pun hanya menghela nafas berat. Cukup pusing memikirkan semua ini. Perasaan bersalahnya pada Marlin ternyata tidak bisa hilang hanya dengan membawa anak itu ke keluarga ini.
“Akan Papa pertimbangkan. Kamu istirahat saja dulu,” ujar Pak Wawan meminta Mira untuk juga meninggalkannya. Bibir Mira menyun, meski tetap tidak bisa membantah kata-kata papanya.
Sementara itu, di tempat lain. Saat pagi kembali datang. Santi buru-buru bersiap untuk pergi ke rumah Sima. Ia sudah memutuskan akan mencari Marlin lagi bersama ibunya itu. Tekadnya sudah bulat. Memang ini yang harus mereka lakukan.
“Assalamu’alaikum, Bu Sima!” panggil Santi setelah memarkir motornya. Tidak menunggu lama, Sima menyambut Santi dengan wajah cerah. Seolah ia pun sudah sangat menunggu kedatangan gadis itu.
“Waalaikumsalam, Santi. Kamu datang?” jawab Sima dengan perasaan senang.
“Bu Sima pasti ingin mengajakku mencari Marlin, kan?” tebak Santi dengan tersenyum jail.
Sima pun juga senyum malu-malu, tidak menyangka Santi akan tahu maksud hatinya.
“Ayo, kita pergi hari ini, Bu Sima,” ucap Santi membuat Sima terkejut.
“Kamu serius, Santi?” tanya Sima memastikan. Ia tidak meminta harus hari ini, tapi ternyata Santi pun sudah punya rencana sendiri yang sama dengannya.
“Iya, Bu Sima. Lihat, saya sudah siapkan segalanya,” jawab Santi seraya menunjukkan tas ransel hitam yang terisi penuh di punggungnya. Sudah ada perbekalan, baju ganti, maupun alat pribadi yang Santi siapkan untuk mereka berdua.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Sima pun menyetujui ide Santi. “Baik, kita pergi hari ini,” jawab Sima dengan tekad kuat yang makin terpatri di hatinya.
Perjalanan jauh itu dimulai, Santi dan Sima pergi ke terminal bus di kota mereka dengan naik sepeda motor. Setelah menitipkan motor ke jasa penitipan yang ada di dekat area terminal, Santi dan Sima naik ke bus yang sudah terjadwal pergi. Untung mereka masih sempat mengejar bus di pemberangkatan pagi, jadi mereka bisa mendapat biaya potongan harga tiket.
“Bu Sima, punya rencana awal?” tanya Santi saat Bus mulai melaju.
“Kita pergi ke alamat Marlin dulu, Santi. Saya ingat, alamat ini yang ditunjukkan Pak Herman waktu itu,” jawab Sima seraya menunjukkan alamat yang ia tulis di balik surat pertama dari Marlin.
Santi membalik kertas itu, lalu tahu jika ada tulisan Marlin di sana. “Ini pesan dari Marlin?” tanya Santi terfokus pada rangkaian kata yang diucapkan Marlin dengan sangat tulus dan indah.
Sima mengangguk perlahan dengan pandangan sedih. “Benar, saat saya ingin tahu bagaimana kabarnya, saya baca lagi tulisan itu sebagai jawaban,” terang Sima membuat Santi menggenggam tangannya dengan sayang.