MARLON MAPALA

Putra Setyawan
Chapter #4

MAPALA

Qoutes:

"Menjadi mahasiswa paling lama memang terdengar memalukan.

Tapi percayalah... kenangan terbaik sering kali datang

kepada mereka yang terlalu lama tinggal."


Suara Bob Marley mengalun pelan dari speaker butut yang gue beli di pasar loak tiga tahun lalu. Suaranya gak bening-bening amat, kadang cempreng, kadang kresek kresek kayak radio kena petir. Tapi justru itu yang bikin suasana kamar kos gue kerasa hidup.

Kamar kos ukuran tiga kali empat meter itu masih sama kayak sebelum liburan semester dimulai. Berantakan. Bau rokok bercampur minyak rambut, kopi sachet, sama aroma kaus yang entah udah berapa kali dipakai tanpa dicuci. Di pojok kamar berdiri kipas angin tua yang muternya kayak orang males kerja. Suaranya "kreeeet... kreeeet..." setiap baling-balingnya muter.

Sinar matahari udah nyelonong masuk lewat jendela kayu yang gak pernah benar-benar bisa ditutup rapat. Cahaya itu langsung nyorot muka gue.

"Anjing..."

Gue ngelirik jam weker.

09.05.

Mata gue langsung melek sempurna.

"SHIT!!"

Hari pertama masuk kuliah.

Dan seperti biasa...

...gue telat.

"Goblok... goblok... goblok..."

Gue ngomel sendiri sambil nyari handuk yang ternyata malah gue pake buat nutupin jendela yang bolong semalem.

Beginilah hidup seorang mahasiswa semester tua.

Kalau mahasiswa baru bangun pagi karena semangat kuliah, gue bangun pagi karena takut dosen nyoret absensi.

Nama gue Marlon Anaka Putra.

Gue anak tunggal.

Lahir dan besar di keluarga yang... yaa... bisa dibilang sederhana banget.

Rumah gue juga tergolong RSSSS.

Bukan RSS.

Bukan RSSS.

Tapi Rumah Sangat Sederhana Sekali Seumur Hidup.

Kalau hujan deras, suara air di genteng lebih berisik daripada televisi.

Kalau ada tamu datang, emak langsung bingung nyari kursi tambahan.

Tapi begitulah rumah gue.

Kecil.

Sederhana.

Tapi penuh cerita.

Bokap gue pensiunan pegawai kantor camat.

Golongannya juga golongan kecil.

Bukan pejabat.

Bukan orang penting.

Cuma pegawai biasa yang puluhan tahun kerja demi menghidupi keluarga.

Nyokap gue buka warung kecil di depan rumah.

Warungnya juga sederhana.

Jual kopi, mi instan, gorengan, es, sama kebutuhan sehari-hari.

Kadang ramai.

Kadang seharian cuma laku sebungkus kopi.

Tapi dari warung kecil itulah gue belajar...

Kalau mencari uang itu ternyata nggak segampang membalik telapak tangan.

Mungkin karena itulah...

Gue nggak pernah malu berasal dari keluarga sederhana.

Buat gue...

Yang bikin seseorang hebat bukan rumahnya.

Bukan juga isi dompetnya.

Tapi bagaimana dia tetap bisa ketawa meskipun hidupnya kadang lagi ngajak berantem.

Dan soal ketawa...

Percaya deh.

Gue ahlinya.

Sayangnya...

Yang sering diketawain justru gue sendiri.

Walaupun nama lengkap gue Marlon Anaka Putra...

Hampir nggak ada orang di kampus yang manggil gue begitu.

Terlalu panjang, katanya.

Semua lebih kenal gue dengan satu nama.

Marlon Mapala.

Padahal...

Gue bukan anak Mapala.

Bukan juga pendaki gunung profesional.

Apalagi penghobi manjat tebing.

Julukan itu muncul gara-gara penampilan gue yang dari dulu selalu begitu.

Rambut gondrong.

Baju hitam.

Celana cutbray.

Anting di kedua telinga.

Naik Honda C70 tua yang lebih sering batuk daripada ngebut.

Kalau orang belum kenal...

Pasti mikir gue anak Mapala.

Padahal mah... gue cuma Mahasiswa Paling Lama

Gue mahasiswa biasa yang kebetulan hobinya bikin hidup sendiri jadi ribet.

Dan dari situlah...

Semua kekacauan dalam hidup gue dimulai.

(Marlon Mahasiswa Paling Lama)

Julukan paling kurang ajar yang pernah gue dapet.

Sebenarnya, bukan hanya gue saja yang Mapala.

Ada lima teman gue yang juga sama mahasiswa paling lama

Ada Gimbal, Jabrik, Ucup dan Acil,..

Tapi entah kenapa, hanya gue yang diselipkan nama Mapala dibelekang nama gue.

(Mungkin karena gaya gue yang paling nyentrik kali yeee, entahlah..

suka- sukanya meteka dah....)

Awalnya gue kesel nama gue ditambahin Mapala.

Tapi, lama-lama ya udah... malah bangga juga.

Soalnya untuk menjadi mahasiswa paling lama itu gak gampang, Bro.

Butuh dedikasi.

Lihat selengkapnya