Qoutes:
"Kadang yang bikin sebuah hubungan gagal bukan karena gak cinta.
Tapi karena mulut lebih cepat kerja daripada otak."
Kalau dipikir-pikir lagi...
Gue sama sekali gak pernah punya niat buat jatuh cinta.
Serius.
Hidup gue udah cukup ribet.
Kuliah belum lulus.
Motor tua sering mogok.
Dompet isinya lebih banyak struk bensin daripada uang.
Ditambah lagi jadi anak CSC yang tiap minggu selalu aja ada acara.
Mana sempat mikirin cewek.
Tapi...
Namanya hati.
Dia gak pernah minta izin.
Dia datang...
Duduk...
Terus bikin ribut.
Sejak pertama kali ngelihat cewek berjaket army itu...
Entah kenapa mata gue jadi sering nyari.
Kalau ke kantin...
Nengok.
Ke parkiran...
Nengok.
Ke perpustakaan...
Nengok.
Bahkan pernah gue pura-pura mau ke toilet fakultas sebelah.
Padahal...
Toiletnya lagi direnovasi.
Tai emang.
"Lon..."
Suara Jabrik bikin gue buyar.
"Hm?"
"Itu..."
"Apa?"
"Yang lo liatin."
Refleks gue nengok.
Cewek itu lagi duduk di taman fakultas.
Sendirian.
Di sampingnya ada cewek lain.
Badannya tambun.
Kulitnya coklat sawo kematengan.
Rambutnya sebahu.
Kalau jalan...
Badannya ikut goyang kanan kiri.
Jujur aja...
Kalau dilihat sekilas dari belakang...
Dia mirip boneka teddy bear yang lagi jalan.
Tapi jangan salah.
Mulutnya...
Lebih tajam daripada silet.
Namanya...
Ponpon.
Entah itu nama asli atau nama panggilan.
Yang jelas...
Semua orang manggil dia Ponpon.
"Itu temennya."
kata Jabrik.
"Hm."
"Galak."
"Hah?"
"Mulutnya."
"Emang kenapa?"
"Lo coba aja ganggu temennya."
"Nanti?"
"Besok nama lo masuk mading."
Gue ketawa.
"Gak segitunya."
"Lo belum kenal."
Dua minggu.
Dua minggu penuh gue cuma jadi pengamat.
Gue belum pernah nyapa.
Belum pernah ngobrol.
Paling mentok cuma senyum.
Itu pun...
Dia gak pernah bales.
Akhirnya...
Jabrik udah gak tahan.
"Lon."
"Hm?"
"Lo tuh mau PDKT apa mau sensus penduduk?"
"Maksud lo?"
"Ngeliatin mulu."
"Gue lagi nyari timing."
"Timing apaan?"
"Yang pas."
"Kalau nunggu pas..."
"Sampai lulus juga gak bakal ngomong."
Tai juga nih anak.
Sore itu...
Entah setan apa yang nyuruh.
Gue akhirnya berdiri.
Ngambil napas.
Terus jalan.
Selangkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Jantung gue udah kayak mesin jahit.
Mala lagi duduk di taman.
Ponpon lagi sibuk makan cilok.
"Permisi..."
Gadis itu nengok.
"Iya?"
"Gue..."
"Iya?"
Kenalin, nama gue Marlon."
"Oh...yang dari CSC itu kan?
"Iya."
"Gue Mala’
Hemm, anu,,,anu…..gue mau…anu…
Anjir.
Semua kalimat yang udah gue hafalin semalam langsung hilang.
Kosong.
Blank.
Yang kedengeran cuma suara burung.
Sama suara Ponpon ngunyah cilok.
"Cem... cem... cem..."
Gue tarik napas.
"Mal..."