Qoutes:
"Jatuh cinta itu lucu. Ditungguin nggak datang-datang.
Begitu datang, malah bikin kaki gemeter."
Kalau dipikir-pikir...Acil itu memang pantas dikasih piagam.
Atau minimal...
Seporsi nasi Padang.
Karena perjuangannya yang jungkir balik mendekati Ponpon akhirnya mulai kelihatan hasilnya.
Sekarang...
Ponpon udah nggak lagi nempel terus sama Mala.
Kalau dulu mereka berdua ke mana-mana selalu bareng, sekarang mulai beda.
Kadang Ponpon pulang duluan. Kadang datang belakangan.
Kadang tiba-tiba bilang ada urusan.
Urusan apa?
Ya... kami semua sudah tahu jawabannya.
Namanya juga orang lagi kasmaran.
Alasannya pasti selalu terdengar penting.
Hari itu, kuliah jam terakhir baru saja selesai.
Mahasiswa mulai berhamburan keluar kelas. Koridor fakultas langsung rame.
Ada yang buru-buru pulang, ada yang nongkrong di kantin,
ada juga yang sibuk nyari dosen buat minta tanda tangan revisi.
Seperti biasa, gue duduk di parkiran bareng anak-anak CSC.
Motor-motor tua berjajar rapi. Kalau ada orang baru lewat,
mungkin dikira lagi ada pameran kendaraan antik.
Jabrik lagi asyik ngelap tangki motornya.
Gimbal sibuk nyeduh kopi sachet pakai air dispenser sekret.
Ucup entah lagi ngapain.
Dari tadi jongkok di depan motor sambil nyenggol-nyenggol karburator pakai obeng,
padahal motornya nggak rusak.
"Gue curiga motor lo sehat-sehat aja, Cup."
"Iya."
"Terus ngapain dibongkar?"
"Biar kelihatan sibuk."
“Gila lu….”
Lagi asyik ngobrol, mata gue nggak sengaja
menangkap sosok yang keluar dari pintu fakultas.
Mala.
Refleks pandangan gue langsung nyari satu orang lagi.
Ponpon.
Nggak ada.
Gue kedip dua kali.
Masih nggak ada.
"Brik..."
Jabrik masih sibuk ngelap tangki.
"Hmm?"
"Coba lihat deh."
"Apa?"
"Itu."
Jabrik mengikuti arah pandangan gue.
Beberapa detik kemudian, kain lap di tangannya berhenti bergerak.
"Buset..."
"Apa?"
"Ponpon nggak ada."
Ucapan Jabrik langsung bikin Gimbal dan Ucup ikut menoleh.
Benar saja.
Mala berjalan sendirian menuju parkiran.
Nggak ada Ponpon yang biasanya jalan di sampingnya sambil ngoceh nggak jelas.
Gimbal langsung berdiri sambil mengangkat kedua tangannya.
"Saudara-saudara!"
Kami semua spontan nengok.
"Dengan ini..."
"Operasi Ponpon dinyatakan BERHASIL!"
"YEEEEEE...!"
Seketika parkiran berubah kayak markas tentara yang baru menang perang.
Untung yang lewat sudah hafal sama kelakuan kami.
Kalau nggak, mungkin dikira lagi ada orang kesurupan.
Pas kami lagi sibuk selebrasi, dari kejauhan muncul Acil.
Santai.
Dorong motornya pelan-pelan.
Mukanya polos.
"Lho..."
"Kalian kenapa?"
Jabrik langsung nyamperin sambil meluk Acil erat-erat.
"Cil!"
"Apa?"
"Lo hebat!"
"Hah?"
"Misi berhasil!"
Acil malah garuk kepala.
"Misi apaan?"
Kami semua langsung kompak nepok jidat.
"Tai..."
"Dia lupa lagi."
"Serius gue lupa," kata Acil sambil ketawa kecil.
Jabrik langsung narik napas panjang.
"Ponpon."
"Oh..."
"Kenapa Ponpon?"
"Dia udah nggak lengket lagi sama Mala."
"Oh iya."
"Lah, kok 'oh iya' doang?"
"Soalnya emang lagi sering jalan sama gue."
Kami semua langsung diem.
Acil ngomongnya santai banget.
Padahal...
Kalimat itu rasanya kayak bom atom buat CSC.
Jabrik pelan-pelan mendekat.
"Cil."
"Iya?"
"Lo sadar nggak?"
"Sadar apaan?"
"Lo udah jadi prioritas Ponpon."
Acil malah ketawa.
"Ah... masa sih?"
"Masih nanya."
"Goblok."
Acil cuma nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Gue juga nggak ngerti."
"Nggak ngerti apanya?" tanya Jabrik.
"Ya... tau-tau aja sekarang Ponpon sering ngajak gue pulang bareng."