MARLON MAPALA

Putra Setyawan
Chapter #16

AKHIRNYA DIA MENYAPA DULUAN

Qoutes:

"Kadang perjuangan yang paling melelahkan bukan mengejar seseorang.

Tapi, pura - pura cuek saat orang itu akhirnya mulai mendekat"


Kalau ada yang nanya...

Kapan hari paling bahagia selama gue kuliah?

Jawaban gue gampang.

Bukan waktu IPK naik, karena itu belum tentu.

Bukan waktu lulus ujian, karena itu masih lama.

Tapi...

Hari ketika Mala pertama kali nyapa gue duluan.

Sederhana.

Cuma satu kata.

Tapi efeknya...

Lebih dahsyat daripada kopi tiga gelas.

Setelah berbagai macam kebodohan yang gue lakukan...

Mulai dari salah ngomong soal jerawat.

Salah masuk kelas.

Salah nutup mata orang.

Sampai hampir membongkar isi tas dosen.

Akhirnya kehidupan gue mulai agak normal.

Ya...

Agak doang.

Karena kalau normal beneran...

Berarti bukan hidup gue.

Pagi itu suasana kampus lumayan adem.

Habis hujan semalam.

Tanah masih sedikit basah.

Anak-anak mulai berdatangan.

Ada yang buru-buru masuk kelas.

Ada yang masih nongkrong di kantin sambil sarapan.

Ada juga yang baru turun dari motor sambil ngerapiin rambut di kaca spion.

Biasanya...

Gue juga begitu.

Walaupun yang dirapiin cuma tiga helai rambut yang bandel.

Anak-anak CSC udah nongkrong di parkiran.

Jabrik lagi ngelap motornya.

Gimbal lagi ngopi.

Ucup?

Entah kenapa dari kemarin hobinya ngacak-ngacak motor sendiri.

"Cup."

"Iya?"

"Motor lo rusak?"

"Enggak."

"Napa dibongkar mulu?"

"Biar anak anak kampus ngira gue mekanik."

"Padahal?"

"Padahal gue juga bingung ini baut bekas apaan."

"Goblok."

Kami ketawa bareng.

Beginilah tongkrongan CSC.

Nggak ada yang normal.

Kalau ada yang normal...

Biasanya cuma numpang lewat.

"Lon."

Suara Jabrik bikin gue nengok.

"Apa?"

"Itu."

Dia menunjuk ke arah koridor.

Mala.

Lagi jalan sendirian.

Bawa map biru di tangan.

Rambutnya diikat seperti biasa.

Sederhana.

Nggak menor.

Nggak berlebihan.

Ya...

Memang itu yang dari dulu bikin gue suka.

Dia kelihatan jadi dirinya sendiri.

Bukan jadi orang lain.

Jantung gue mulai aneh lagi.

"Udah, sana."

Bisik Jabrik.

"Ngapain?"

"Sapa."

"Takut."

"Takut apaan?"

Lihat selengkapnya