Qoutes:
"Kadang yang bikin hidup ribet itu bukan musuh.
Tapi kebodohan sendiri."
Pernah nggak sih...
Elo niatnya nembak cewek...
Eh...
Yang salah paham malah cowok jadi -jadian?
Kalau belum pernah...
Selamat.
Berarti hidup elo masih normal.
Kalau gue?
Jangan ditanya.
Hidup gue mah dari dulu memang hobi bikin plot twist.
Sejak gue sama Mala mulai sering pinjam-pinjaman catatan kuliah,
gue ngerasa ini kesempatan emas.
Kalau ada materi dosen yang kelewat, gue pinjam catatan Mala.
Kalau Mala ada yang kurang lengkap, dia pinjam catatan gue.
Kelihatannya sih saling bantu.
Padahal...
Kalau dari pihak gue...
Ada modus tipis-tipis.
Hehehe...
Namanya juga pejuang PDKT.
Kalau ada celah sedikit...
Gas.
Hari itu dosen nerangin materi Statistik.
Jujur aja...
Separuh omongan beliau masuk kuping kiri, terus kabur lewat ubun-ubun.
Bukan karena dosennya jelek ngajarnya.
Tapi...
Karena mata gue sibuk ngelirik Mala.
Sesekali pura-pura nyatet.
Padahal yang gue gambar malah sketsa Honda C70.
Sebelum kuliah selesai, gue sempat nyolek meja Mala.
"Mal..."
"Iya?"
"Nanti gue pinjam catatan lo ya."
"Boleh."
"Oke."
Sip.
Misi pertama berhasil.
Yang gue nggak tahu...
Ternyata beberapa menit sebelumnya
Mala sudah lebih dulu minjam catatan milik Seto.
Nah...
Kenalin dulu.
Namanya Seto.
Kalau siang dipanggil Seto.
Kalau malam...
Anak-anak CSC iseng manggilnya Santi.
Orangnya lemah gemulai.
Ngomongnya halus.
Kalau jalan, lenggak-lenggoknya lebih luwes daripada daun kelapa kena angin.
Bawaaanya selain buku pelajaran, di tasnya selalu ada satu bag kecil
Make uo dari berbagai merk..(Busyeettt dah…)
Pokoknya...
Kalau Seto lewat...
Anak-anak CSC pasti saling senggol sambil senyum-senyum sendiri.
Bel pulang berbunyi.
"Teeettt..."
Mahasiswa langsung beres-beres.
Nah...
Di sinilah awal petaka itu dimulai.
Entah makan apa semalam.
Perut gue mendadak melilit.
Bukan kebelet biasa.
Ini kebelet yang kalau ditahan lima menit lagi...
Bisa mengubah sejarah fakultas.
Gue langsung nyamber tas.
Lalu refleks mengambil buku yang ada di tangan Mala.
"Yaudah Mal... gue pinjam dulu!"
Belum sempat Mala ngomong apa-apa...
Gue udah ngibrit keluar kelas.
Target gue cuma satu.
WC kos.
Setelah semua urusan negara selesai dengan aman...
Barulah gue duduk santai di kamar.
Nah...
Inilah saat yang sudah gue tunggu.
Gue buka laci meja.
Keluar satu amplop warna pink.
Kenapa pink?
Karena yang putih habis.
Jangan dipikir macem-macem.
Amplop itu gue semprot parfum.
Sampai wanginya satu kamar.
Entah kenapa waktu itu gue yakin...
Surat yang wangi...
Peluangnya diterima juga lebih besar.
Logika orang kasmaran memang sering nggak masuk akal.
Gue mulai nulis.
Satu lembar penuh.
Isinya rayuan receh.
Gombalan.
Semua yang selama ini cuma muter-muter di kepala.
Kalimat pembukanya cuma satu.
"Hai, Manis..."
Udah.
Nggak ada nama Mala.
Nggak ada nama siapa-siapa.
Terus di bagian bawah...
Dengan penuh rasa percaya diri...
Gue malah nulis.
Dari... Marlon... Fansmu.