Qoutes:
"Kadang... kita jatuh cinta bukan karena seseorang itu sempurna.
Tapi karena dia mengajarkan arti sederhana yang selama ini kita lupa."
Sejak kejadian surat cinta nyasar ke Seto...
Hubungan gue sama Mala pelan-pelan berubah.
Bukan berubah jadi pacaran.
Jauh.
Masih jauh.
Tapi...
Udah nggak secanggung dulu.
Sekarang kalau ketemu di kampus...
Kami saling sapa.
Kadang ngobrol sebelum dosen datang.
Kadang ketemu di kantin.
Kadang pulang bareng sampai gerbang kampus.
Ya... cuma sampai gerbang.
Habis itu jalannya masing-masing.
Tapi entah kenapa...
Gue udah senang.
Buat orang yang dulu cuma berani ngelihatin dari jauh...
Ngobrol lima belas menit aja rasanya udah kayak menang undian.
Siang itu...
Jam kuliah kosong.
Sebagian anak kelas milih nongkrong di kantin.
Sebagian lagi rebahan ngelamun masa depan di bangku belakang
Ada juga yang pura-pura belajar, padahal ujung-ujungnya tidur.
Gue sama Mala duduk di luar kelas di bawah pohon mangga dekat parkiran.
Tempat favorit mahasiswa kalau lagi pengen ngadem.
Anginnya adem.
Suasananya tenang.
Honda C70 gue juga parkir nggak jauh dari situ.
Untung hari itu dia lagi baik.
Nggak mogok.
Kami ngobrol ngalor-ngidul.
Awalnya soal dosen.
Terus nyambung ke tugas.
Lalu entah gimana...
Obrolannya berubah jadi soal kehidupan.
Gue iseng nanya.
"Mal..."
"Hm?"
"Kalau boleh tahu..."
"Kamu kok dari dulu nggak pernah kelihatan pacaran?"
Mala nggak langsung jawab.
Dia cuma memandang halaman parkir.
Beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
"Bukan nggak mau."
"Lalu?"
"Belum waktunya."
Jawaban itu bikin gue penasaran.
"Maksudnya?"
Mala menarik napas pelan.
"Kamu pernah lihat bapakku?"
"belum."
"Bapakku buruh tani."
Gue langsung diam.
"Nggak punya sawah sendiri."
"Kalau musim tanam ya kerja."
"Kalau nggak ada yang nyuruh ya nunggu."
"Ibukku juga bantu di sawah."
"Kadang nanam."
"Kadang metik."
"Kadang ikut nyangkul."
Suaranya pelan.
Nggak ada nada mengeluh.
Nggak ada rasa malu.
Dia cuma... bercerita.
Apa adanya.
"Buat kuliahin aku..."
"Mereka harus kerja dari pagi sampai sore."