MARLON MAPALA

Putra Setyawan
Chapter #21

KALAU KAMU MAU MENUNGGU

Qoutes:

"Aku nggak sedang mengejar perempuan yang sempurna.

Aku cuma sedang berusaha menjadi laki-laki yang pantas buat dia."


Sejak obrolan gue sama Mala di bawah pohon ketapang beberapa hari yang lalu...

Ada satu hal yang berubah.

Bukan Mala.

Tapi...

Gue.

Kalau dulu tiap ketemu dia...

Isi kepala gue cuma satu.

"Hari ini gue harus bikin dia ketawa."

Kalau itu gagal...

"Minimal hari ini dia harus inget gue."

Kalau itu juga gagal...

Ya udah.

Besok coba lagi.

Namanya juga Marlon.

Pantang mundur.

Pantang malu.

Walaupun kenyataannya...

Malu udah jadi makanan sehari-hari.

Pagi itu...

Begitu gue masuk kelas...

Jabrik langsung teriak.

"WOI... PEMBAJAK MOTOR DATANG!"

Seketika satu kelas ketawa.

Gimbal langsung nyambung.

"Hati-hati ya semuanya."

"Kalau parkir motor, dikunci dobel."

"Takut ada yang salah bonceng lagi."

"Tai lah."

Gue lempar penghapus ke arah mereka.

Meleset.

Yang kena malah papan tulis.

"HAHAHAHA..."

Satu kelas makin rame.

Mala yang duduk di depan cuma geleng-geleng kepala sambil ketawa kecil.

"Ih..."

"Kalian tuh."

"Kasihan Marlon."

Jabrik langsung nyeletuk.

"Justru karena sayang, Mal."

"Kalau nggak diketawain..."

"Nanti dia lupa diri."

"Betul!"

Sahut Gimbal.

"Orang ini kalau sehari nggak dipermalukan..."

"Besoknya pasti sombong."

Gue cuma bisa ngelus dada.

Punya teman banyak memang menyenangkan.

Tapi...

Kadang pengen gue tuker semua sama kambing.

...

...

...

Jam kuliah selesai lebih cepat.

Dosen ada rapat.

Mahasiswa langsung bubar.

Ada yang ke kantin.

Ada yang nongkrong.

Ada juga yang pulang.

Gue lihat Mala jalan sendirian ke taman kecil belakang perpustakaan.

Tangannya bawa buku.

Seperti biasa.

Gue menghampiri.

"Boleh duduk?"

Dia mengangguk pelan.

"Duduk aja."

Gue duduk.

Biasanya...

Lima detik pertama gue udah mulai ngoceh.

Hari itu...

Enggak.

Gue cuma duduk.

Diam.

Ngelihatin mahasiswa yang lagi main bola di lapangan.

Angin sore pelan-pelan meniup daun-daun kering.

Suasananya tenang.

Mala menutup bukunya.

"Kamu kenapa?"

"Gue?"

"Iya."

"Kok diem?"

Gue nyengir.

"Lagi hemat omongan."

Lihat selengkapnya