MARLON MAPALA

Putra Setyawan
Chapter #22

TEMAN RASA SAUDARA

Qoutes:

"Sahabat sejati bukan orang yang selalu ada di samping kita.

Tapi orang yang rela mundur selangkah supaya kita bisa melangkah lebih jauh."


Sejak hubungan gue sama Mala mulai membaik...

Entah kenapa...

Setiap malam Minggu jadi terasa beda.

Kalau dulu...

Malam Minggu identik sama tongkrongan CSC.

Sekarang...

Masih sama.

Bedanya...

Ada satu anggota tambahan.

Namanya...

Mala.

Mau nongkrong di warung kopi...

Mala ikut.

Mau nongkrong di bengkel langganan Gimbal...

Mala ikut.

Mau duduk di trotoar depan kampus sambil ngopi sachet...

Mala juga ikut.

Pokoknya...

Di mana ada anak-anak CSC...

Di situ biasanya ada gue...

Dan kalau ada gue...

Hampir pasti ada Mala.

Awalnya semua berjalan biasa aja.

Kami ngobrol.

Ketawa.

Saling ejek.

Kadang Mala juga mulai berani ngeledekin Jabrik

yang rambutnya lebih mirip sapu ijuk daripada rambut manusia.

Gimbal tetap sibuk ngomongin motor.

Ucup tetap sibuk nyolong gorengan orang.

Sedangkan Acil...

Ya seperti biasa.

Mukanya tetap kelihatan paling alim.

Padahal...

Kalau lagi bikin rencana jahil...

Dia otaknya nomor satu.

Suatu malam Minggu...

Kami lagi nongkrong di pos ronda belakang kampus.

Segelas kopi hitam ada di depan gue.

Mala lagi ngobrol sama Ponpon.

Sedangkan gue lagi sibuk ngelihatin Gimbal

yang lagi bongkar karburator motor entah buat apa.

Tiba-tiba...

"Lon."

Gue nengok.

"Iya?"

Gimbal naruh obengnya.

Wajahnya serius.

Serius banget.

Sampai gue sempat mikir...

Jangan-jangan motor dia meledak.

"Sebentar."

"Kita mau ngomong."

Jabrik ikut duduk.

Ucup juga.

Acil ikut merapat.

Lah...

Ini kenapa?

Rapat dadakan?

Gue langsung nyeletuk.

"Anjir..."

"Gue bikin salah lagi ya?"

Jabrik geleng.

"Enggak."

"Terus?"

Gimbal menarik napas panjang.

"Lon..."

"Kita mau ngomong sesuatu."

"Apaan?"

"Tapi jangan salah paham dulu."

"Lah..."

"Malah makin takut gue."

Gimbal senyum tipis.

"Gini..."

"Sebenarnya..."

"Kami semua seneng kok Mala sering nongkrong sama kita."

Gue ngangguk.

"Iya."

"Dia juga betah."

"Iya."

"Tapi..."

Nah...

Kalau orang Indonesia udah ngomong 'tapi'...

Biasanya habis itu ada masalah.

"Tapi apa?"

Gimbal melirik Jabrik.

Jabrik nyolek gue pelan.

Lihat selengkapnya