Qoutes:
"Persahabatan kadang lahir bukan karena punya hobi yang sama.
Tapi karena pernah sama-sama dipermalukan."
Sore itu...
Gue masih duduk di tribun kampus bareng Mala.
Di depan kami, anak-anak Teknik lagi main bola.
Ada yang teriak-teriak minta operan.
Ada yang selebrasi berlebihan padahal cuma gol waktu latihan.
Ada juga yang jatuh sendiri, lalu nyalahin rumput.
Mala cuma senyum sambil ngelihatin mereka.
"Seru ya..." katanya pelan.
"Iya."
"Kompak banget mereka."
Gue ikut ngelihat ke arah lapangan.
Entah kenapa...
Ucapan Mala tadi bikin pikiran gue melayang ke masa lalu.
Mala lalu nyeletuk lagi.
"Lon..."
"Hm?"
"Kalian anak-anak CSC juga kompak banget."
"Kok bisa sih?"
Gue nyengir.
"Kalau diceritain..."
"Panjang."
"Aku dengerin."
Gue nyender ke bangku tribun.
Narik napas panjang.
Lalu pelan gue bilang.
"Semuanya..."
"...berawal dari kepala plontos gue."
Mala langsung nengok.
"Hah?"
Gue ketawa kecil.
"Iya."
"Ini semua gara-gara kepala plontos."
Dan...
Tanpa sadar...sambil bercerita kepada Mala
Pikiran gue langsung muter ke hari pertama gue resmi jadi mahasiswa.
...
...
...
Dulu,...
Gue masih pendiem.
Masih bingung mau duduk sama siapa.
Hari pertama ospek, gue datang kepagian.
Masih semangat.
Masih merasa dunia perkuliahan itu indah.
Belum tahu kalau sebentar lagi harga diri gue bakal dikubur hidup-hidup.
Kelompok ospek gue waktu itu lumayan unik.
Isinya sekitar dua puluhan orang.
Yang cowok...
Cuma lima.
Sisanya cewek semua.
Lima cowok itu ya...
Gue.
Gimbal.
Jabrik.
Ucup.
Sama Acil.
Waktu itu kami bahkan belum saling kenal.
Jangankan ngobrol.
Nama aja belum hafal.
Yang kami tahu cuma satu.
Sama-sama maba.
Sama-sama bingung.
Dan sama-sama takut sama kakak senat.
Sore sebelum ospek dimulai, kakak senat ngasih pengumuman.
"Besok..."
"Mahasiswa laki-laki wajib potong rambut cepak."
Seketika suasana hening.
Semua cowok langsung megang rambut masing-masing.
Termasuk gue.
Masalahnya...
Gue paling anti rambut cepak.
Buat gue...
Rambut itu harga diri.
Kalau rambut dipotong pendek...
Rasanya kayak kehilangan separuh ketampanan.
(Walaupun ketampanan gue dari awal juga nggak banyak.)
...
...
Pulang dari kampus...
Dengan hati dongkol gue mampir ke tukang cukur.
Abangnya senyum.
"Mau dipotong apa, Dek?"
"Cepak ya?"
Gue masih manyun.
Lalu entah kesambet jin apa...
Gue langsung ngomong,
"Bang..."
"Plontosin aja sekalian."
Abangnya berhenti motong rambut pelanggan.
"Nggak salah dengar saya?"
"Plontos?"
"Iya Bang."
"Yakin?"
"Yakin."
"Nanti nyesel."
"Nggak."
"Plontosin aja."
Abangnya masih ragu.
"Sampai licin?"
"Iya."
"Yakin?"
"Iya Bang."
"Kalau nanti dimarahin?"
Gue langsung ngedumel.
"Paling juga sama aja."
"Mending sekalian habis."
Abangnya cuma geleng-geleng kepala.
Sepuluh menit kemudian...
Selesai.
Gue ngaca.
Buset...
Kepala gue kinclong.
Kalau kena matahari...
Mungkin bisa buat nyalain kompor.
...
...
Besok paginya...
Dengan penuh percaya diri...
Gue datang ke kampus.
Masuk ke barisan kelompok.
Begitu berdiri...
Aneh.
Semua orang melototin kepala gue.