MARLON MAPALA

Putra Setyawan
Chapter #24

PULANGNYA JANGAN BURU-BURU

Qoutes:

"Kadang yang paling romantis bukan makan malam di restoran mahal.

Tapi memperlambat langkah, supaya perjalanan pulang terasa lebih lama."


Hujan baru saja berhenti.

Sisa-sisa air masih menetes dari ujung atap gedung fakultas.

Jalanan kampus yang tadi siang rame, sekarang mulai lengang.

Udara terasa dingin.

Entah karena habis hujan.

Atau karena memang sore itu terlalu tenang.

Anak-anak CSC satu per satu pamit.

Gimbal pulang lebih dulu.

Katanya motornya kemasukan air.

Padahal gue yakin...

Motornya emang dari lahir udah hobi mogok.

Jabrik pamit karena mau nengokin ortunya

Ucup entah ke mana.

Biasalah...

Kalau dia tiba-tiba hilang, kemungkinan besar lagi ngutang di kantin.

Sedangkan Acil...

Sekarang lebih sering nganter Ponpon.

Aneh memang.

Dulu misi rahasia.

Sekarang malah jadi sopir pribadi.

Eh...

Bukan.

Yang benar...

Ponpon yang jadi sopir.

Acil cuma penumpang langganan.

Sampai sekarang kalau ngelihat mereka boncengan, gue masih pengen ketawa.

Mirip emak-emak lagi nganter anak SD berangkat sekolah.

Tinggal ditambah tas Doraemon aja.

"Gimana?" tanya Mala sambil senyum.

"Lihat apa?"

"Itu..."

Dia menunjuk Acil yang makin jauh dibonceng Ponpon.

Gue geleng-geleng kepala.

"Kalau cinta udah turun tangan..."

"Logika mah disuruh libur."

Mala ketawa kecil.

"Iya juga ya."

Kami berdua akhirnya ikut jalan pelan meninggalkan tribun.

Jalan setapak menuju gerbang kampus masih basah.

Sesekali sepatu kami menginjak genangan kecil.

Tidak ada tujuan.

Cuma berjalan.

Pelan.

Aneh ya...

Kalau jalan sendirian dari fakultas ke gerbang kampus, rasanya dekat.

Kalau jalan sama orang yang kita suka...

Rasanya pengen kampus ini diperluas dua kali lipat.

Supaya jalannya lebih lama.

Beberapa menit kami cuma diam.

Bukan karena kehabisan bahan obrolan.

Tapi karena diamnya juga terasa nyaman.

Mala yang akhirnya membuka percakapan.

"Lon..."

"Hm?"

"Kalau nanti lulus..."

"Kamu pengen jadi apa?"

Gue langsung jawab tanpa mikir.

"Orang kaya."

Mala langsung ketawa.

"Serius."

"Iya."

"Serius."

Lihat selengkapnya