Qoutes:
"Mahasiswa itu mahluk paling unik di dunia.
Disuru kerja sukarela, semua pura - pura sibuk.
Tetapi, begitu ditambah embel - embel "gorengan sepuasnya",
mendadak semua merasa terpanggil"
Kalau dipikir-pikir...
Hidup gue memang aneh.
Belum lama ini sibuk ngejar cinta.
Sekarang...
Malah dikejar dosen.
Pagi itu, gue sama anak-anak CSC lagi nongkrong di sekretariat jurusan.
Seperti biasa, Gimbal lagi rebahan di bangku kayu sambil baca majalah motor tua.
Jabrik sibuk ngitung uang kas yang isinya lebih banyak struk utang daripada duitnya.
Ucup lagi ngaca pakai kaca helm entah buat apa. Sedangkan Acil? Jangan ditanya.
Dari tadi senyum-senyum sendiri sambil matanya merem melek.
Pasti lagi bayanagi ponpon.
Tiba-tiba pintu sekretariat diketuk.
"Permisi..."
Seorang staf fakultas muncul.
"Anak-anak CSC ya?"
"Iya, Pak."
"Pak Dekan sama dosen pembina minta kalian ke ruang rapat sekarang."
Kami saling pandang.
Gimbal langsung nyeletuk pelan.
"Matilah... uang kas ketahuan."
Jabrik langsung nyenggol kepalanya.
"Kas apaan? Wong isinya recehan."
Gue cuma ketawa.
"Udahlah... paling disuruh angkat lemari."
Sepuluh menit kemudian kami sudah duduk di ruang rapat.
Ada Pak Dekan.
Ada dosen pembina kemahasiswaan.
Ada beberapa dosen lain.
Sumpah...
Jantung gue udah kayak speaker konser dangdut.
Pak dosen membuka map di depannya.
"Lima tahun terakhir..."
"Acara Malam Temu Kangen Fakultas berjalan biasa saja."
Beliau berhenti sebentar.
"Tahun ini kami ingin suasananya berbeda."
Kami berlima cuma saling lirik.
Lalu beliau melanjutkan.
"Karena itu..."
"Kami mempercayakan CSC menjadi panitia inti acara tahun ini."
Hening.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Sampai akhirnya...
Gimbal angkat tangan.
"Pak..."
"Iya?"
"Kami cuma berlima."
Semua dosen malah ketawa.
Pak dosen tersenyum.
"Makanya bentuk panitia."
Nah...
Kalimat itu...
Sederhana.
Tapi cukup bikin lima kepala kami langsung panas.
Keluar dari ruang rapat,
kami langsung ngumpul di bawah pohon ketapang dekat parkiran.
Semua diam.
Gue buka suara.
"Jadi?"
Gimbal garuk-garuk kepala.
"Kalau cuma kita berlima..."
"Yang pasang panggung siapa?"
Jabrik nyambung.
"Yang angkat kursi?"
Ucup ikut nimbrung.
"Yang jaga registrasi?"
Acil malah nambah.
"Yang dimarahin dosen nanti siapa?"
"Lah ya kita semua!"
Semua langsung ketawa.
Beberapa detik kemudian gue nyeletuk.
"Gue punya ide."
Empat pasang mata langsung nengok.
"Kita buka perekrutan sukarelawan."
"Volunteer?"
"Iya."
"Biar banyak tenaga."
Jabrik langsung bertanya.
"Dibayar?"
Gue geleng.
"Nggak."
"Terus?"
"Gue kasih nasi bungkus."
"Minum kopi."
"Sama gorengan."
"Gorengannya boleh nambah."
Semua diam.
Lalu...
Ucup berdiri sambil nepuk meja.
"SETUJU!"