Qoutes:
"Kerja keras mungkin membuat badan lelah.
Tapi melihat semua usaha berakhir indah,
rasanya sanggup menghapus semua capek itu."
Hari yang kami tunggu akhirnya datang.
Hari itu kampus terlihat berbeda.
Sejak pagi halaman fakultas sudah ramai.
Mahasiswa hilir mudik membawa kursi, meja, kabel, backdrop,
hingga konsumsi.
Aula yang biasanya dipakai kuliah kini berubah menjadi
tempat acara Malam Temu Kangen Alumni.
Jujur saja...
Sejak bangun tidur perut gue rasanya mules terus.
Bukan karena salah makan.
Tapi karena gugup.
Ini pertama kalinya CSC diberi kepercayaan mengurus acara sebesar ini.
Kalau gagal...
Nama baik kami yang habis.
Kalau sukses...
Ya paling cuma dapat ucapan, "Terima kasih."
Begitulah nasib panitia.
Jam tujuh pagi kami berlima sudah berkumpul.
Gimbal masih sibuk ngetes sound.
"Tes... satu... dua... tiga..."
Suara mic tiba-tiba melengking.
"Ngiiiiiing..."
Satu aula langsung nutup telinga.
"Busyet! Sound apa alarm kebakaran?"
Jabrik yang lagi naik tangga buat masang lampu langsung teriak.
"Woi! Jangan dikerasin! Kuping gue copot!"
Gimbal malah ketawa.
"Berarti hidup."
"Kalau mati kagak bunyi."
Di sudut lain...
Ucup lagi masang spanduk.
Beberapa menit kemudian gue nengok.
Lah...
Spanduknya terbalik.
"Goblok..."
"Tulisan 'Selamat Datang Alumni' jadi kebaca dari belakang."
Ucup garuk kepala.
"Kirain tadi emang model desain sekarang."
"Model pala bapak kau."
Seluruh aula langsung ketawa.
Acil juga nggak kalah sibuk.
Harusnya dia jaga meja registrasi.
Tapi tiap lima menit matanya malah nyari Ponpon.
"Ponpon mana?"
"Ponpon ke konsumsi."
"Oh."
Lima menit kemudian.
"Ponpon mana?"
"Lagi bantu dekor."
"Oh."
Gimbal langsung nyeletuk.
"Lu panitia apa satpam pribadi Ponpon?"
Acil cuma nyengir.
"Namanya juga memastikan volunteer bekerja."
"Iya..."
"Bekerja di hati lu."
Seketika satu ruangan pecah ketawa.
Ponpon yang kebetulan lewat cuma geleng-geleng kepala.
Dasar.
Di tengah kekacauan itu...
Mala justru kelihatan paling tenang.
Dia mondar-mandir membantu siapa saja yang butuh.
Kadang bantu registrasi.
Kadang bantu konsumsi.
Kadang bantu nyusun kursi.
Sesekali mengingatkan volunteer yang mulai kelelahan.
"Teman-teman... jangan lupa makan dulu."
Kalimat sederhana.
Tapi entah kenapa...
Bikin semua orang nurut.
Gue cuma memperhatikan dari kejauhan.
Lalu dalam hati ngomong sendiri.
"Pantes aja gue jatuh cinta."
Menjelang sore...
Semuanya akhirnya siap.
Lampu menyala.
Backdrop berdiri megah.
Sound system normal.