Qoutes:
"Setiap kampus selalu melahirkan mahasiswa baru.
Tapi tidak setiap kampus mampu melahirkan
kenangan yang akan bertahan seumur hidup."
Hari itu...
Gue akhirnya berdiri di depan gerbang kampus.
Bukan sebagai mahasiswa yang telat.
Bukan sebagai mahasiswa yang lagi dikejar dosen.
Bukan juga sebagai manusia yang pura-pura sibuk biar gak disuruh presentasi.
Hari itu...
Untuk pertama kalinya...
Gue berdiri sebagai seseorang...
...yang akhirnya selesai.
Angin sore masih sama.
Pohon ketapang masih berdiri.
Warung kopi pojok kampus masih buka.
Pos satpam masih di tempatnya.
Lapangan masih dipenuhi mahasiswa yang main bola.
Suara peluit masih terdengar.
Suara motor masih berseliweran.
Mahasiswa baru masih lalu-lalang sambil bawa map.
Seolah-olah...
Tidak ada yang berubah.
Padahal...
Yang berubah...
Adalah gue.
Honda C70 tua gue masih terparkir di tempat biasanya.
Catnya semakin kusam.
Spionnya masih miring.
Knalpotnya masih batuk-batuk.
Persis kayak pemiliknya.
Gue tepuk pelan jok motornya.
"Makasih ya..."
"Lu kuat juga nemenin orang keras kepala."
Kalau motor bisa ngomong...
Mungkin dia udah minta pensiun dari tiga tahun yang lalu.
Gue ketawa sendiri.
Pak Satpam keluar dari pos.
Masih dengan senyum yang sama.
"Lho..."
"Masih di sini?"
"Iya, Pak."
"Belum pulang?"
"Gue lagi pamitan."
Beliau menatap gue cukup lama.
Lalu menepuk bahu gue.
"Selamat ya."
"Akhirnya lulus juga."
Gue nyengir.
"Iya, Pak."
"Spesies terakhir akhirnya punah."
Beliau ngakak.
"MAPALA ya?"
"Iya."
"Mahasiswa Paling Lama."
Beliau menggeleng pelan.
"Kampus akhirnya kehilangan maskot."
Kami tertawa.
Pelan.
Gak sekeras dulu.
Entah kenapa...
Hari itu tawa terasa lebih pendek.
Mungkin...
Karena kami sama-sama tahu...
Sesudah ini...
Gak akan ada lagi sore seperti biasanya.
Menjelang sore...
Satu per satu wajah yang paling gue kenal mulai berdatangan.
Gimbal.
Masih dengan rambut gondrongnya.
Jabrik.
Masih dengan mulut yang gak pernah bisa diem.
Ucup.
Yang entah sejak kapan masih punya utang gorengan di warung.
Acil.
Yang sekarang mukanya lebih sering senyum kalau Ponpon ada.
"Lon!"
"Woy!"
"Masih hidup lu?"
"Lah..."
"Gue kira yang wisuda cuma ijazah."
"Tai."
Kami saling ketawa.
Gak ada pelukan dramatis.
Gak ada pidato.
Karena memang dari dulu...
Cara kami menunjukkan sayang ya begini.
Saling ngeledek.
Beberapa menit kemudian...
Mala datang.
Masih dengan senyum yang sama.
Masih sederhana.
Masih seperti pertama kali gue kenal dulu.
Dia duduk di samping gue.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Pas.
Seperti selama ini.
Kami ngobrol.
Tentang kerja.
Tentang KKN.
Tentang skripsi.
Tentang hidup yang sebentar lagi membawa kami ke jalan masing-masing.
Sesekali masih ada yang bercanda.
Ucup masih sempat ngambil gorengan orang.
Jabrik masih sempat ngomel.
Gimbal masih sempat debat soal motor.
Acil masih clingak clinguk matanya mencari Ponpon.
Semua masih sama.
Tapi...