Marriage By Design

Lionyxzz
Chapter #2

1. Sindiran Keras

WAKTU istirahat berarti 'segalanya' bagi para pekerja. Pernyataan itu berlaku pada kondisi terkini di dalam ruangan divisi marketing perusahaan penerbit majalah Starlee. Sayup-sayup suara ketikan pada keyboard komputer bergema semakin cepat di penghujung menit menuju pergantian jam istirahat kantor.

   Mengintip dari sela kubikel miliknya, Yuki berhasil menangkap gestur saling curi pandang dari rekan kerjanya. Ia spontan mengusap pelan dadanya lalu menggeleng dengan tatapan geli. Seperti hapal mengenai apa yang akan terjadi beberapa menit kedepan.

    Aib siapa lagi yang terbongkar siang ini?

   Tepat beberapa detik setelah alarm waktu istirahat berbunyi, kedua temannya, bukan ... ketiga temannya dengan gerakan kilat mulai berkumpul di satu titik, sofa panjang yang terletak di ujung ruangan. Duduk saling berdempetan, wajah ketiga orang tersebut terlihat begitu antusias. Bukan tanpa alasan, menantikan jamuan teh gratis di sela kesibukan kerja menjadi suntikan vitamin kebahagiaan tersendiri. Gossip is everything!

   "Kalian pada udah siap denger cerita dari eyke?" Novi, perempuan berbadan gembul dengan potongan rambut bob itu memulai pembicaraan dengan suara lantang.

   "Yaelah, Mbak, nggak usah pake kalimat pembuka segala. Langsung cerita aja, kek," ucap salah satu staf desain grafis, Yongki.

   Yuki memilih tetap berada di meja kerjanya. Lagipula dari dalam ruangan, ia pasti bisa mendengar suara-suara dosa itu dengan sangat jelas.

   "Nggak asik ya, Ongki!" cebik Novi lantas menunjukkan isi ponselnya yang menampilkan tangkapan layar sebuah chat. "Nih, lihat sendiri isi percakapan mereka. Selama ini dugaan aku bener, kan, kalo si Wiwin kena KDRT dari suami brondongnya. Situ ... situ pada nggak percaya aku, sih."

   "Belum percaya karena nggak ada bukti, Mbak. Lagian, bisa banget si Wiwin milih resign buat nikah sama cowok mokondo model tai kayak begitu? Padahal kalo pake hitungan logis, milih bertahan kerja di sini udah paling bener."

   Anisah, staf admin media sosial menimpali, "Belum sadar tabiat aslinya kali, Yong. Bisa aja suaminya orang yang manipulatif."

   "Yakin nikah tapi belum kenal betul sama pasangan sendiri itu lebih ke pilihan goblok sih, Sa."

   Astaga. Yuki hanya bisa menelan ludah kasar, efek terkejut dengan ucapan spontan Yongki. Samar-samar mencerna informasi tersebut, Yuki jadi mengingat sosok mantan CS yang sedang dibicarakan. Sepengetahuannya, Wiwin adalah mantan pegawai customer service yang memiliki kinerja baik dan cukup akrab dengan tim divisi marketing.

   "Astaghfirullah, mukanya kok bisa jadi bonyok-bonyok begini?" Anisah nampak prihatin. "MBAK YUKI, KESINI!!!" teriaknya.

   Yuki mengintip dari balik kubikelnya, "Kenapa, Sa?"

   "Sini dulu, Mbak. Lihat deh, kasihan mukanya si Wiwin."

   Yuki lantas mendatangi perkumpulan itu. Dahinya berkerut, tidak tega sehabis melihat foto-foto mengenaskan milik Wiwin. Wanita yang dulu ia anggap cantik, kini berubah menyedihkan. Wajah mungil kembang desa itu penuh luka lebam kebiruan dari area mata hingga bibir. Hidung mancungnya turut patah seperti habis mendapatkan pukulan benda tumpul.

   "Mbak Novi dapat foto ini dari mana?" tanya Yuki penasaran.

   Kemudian Novi menjelaskan kronologi bagaimana dirinya bisa mendapatkan informasi berharga itu. Dengan begitu lancar, Yuki seperti terserap dalam magisnya rangkaian kata yang disampaikan oleh staf content writer itu. Ia bisa merasakan Yongki dan Anisah saling menyahut satu sama lain saat mendengar kisah menyedihkan dari mantan rekan kerja mereka.

   How funny it is?

   Di mana lagi orang-orang dapat menyaksikan ekspresi wajah pencerita dengan begitu jelas. Mulai dari alis mata yang menukik, hidung yang kembang kempis, suara berbisik yang terdengar lebih lantang daripada berbicara normal, intonasi yang naik turun dalam memainkan emosi, hingga upaya mengilustrasikan kejadian dengan gerakan tangan. Sebegitunya effort yang dilakukan oleh pengedar gossip.

   "Makanya, Ki. Besok kalo mau nikah cari pasangan yang bener, ya. Jangan pilih yang asal ganteng doang!" celetuk Novi yang membuat Yongki dan Anisah tidak bisa menahan tawa.

   Sial. Lagi-lagi yang dibahas soal nikah.

   Yuki hanya bisa merespon dengan senyum pasrah. Sedikit tidak nyaman, betul. Tapi mau bagaimana lagi? Apa yang Mbak Novi ucapkan tidaklah salah. Sejak awal seharusnya ia tidak bergabung untuk bergosip. Tahu sendiri kan, dirinya ini punya satu kekurangan yang potensial sekali jadi sasaran empuk nyinyiran. Kekurangannya adalah ia belum menikah padahal sudah menginjak usia 28 tahun. Sebutan perawan tua mulai menempel pada namanya.

   "Awas aja kalo calon suaminya Mbak Yuki orang jelek dan kelakuannya minus. Bakal aku sleding kepala nya sampe mampus!" tukas Yongki dengan wajah yang dibuat garang.

   Anisah menambahkan,"Aku ikut gebukin juga."

  "Apaan sih, kalian," potong Yuki, suaranya terdengar jengkel.

   Mendengar ponselnya berdering, Yuki mengalihkan fokusnya. "Bentar, ya. Ada telpon dari ibu," pamitnya untuk kembali ke meja kerjanya.

   "Halo, Bu."

   "Halo, nak. Nanti pulang jam berapa, Ki?"

   Yuki refleks mengecek arloji yang melingkar di tangannya. Ia mengingat bahwa malam ini ada rapat evaluasi bulanan di divisi marketing. Yuki tidak bisa melewatkan kesempatan itu.

   "Kayaknya hari ini Uki pulang telat, Bu." Uki adalah panggilan kecilnya. "Ada rapat kantor yang nggak boleh aku lewatin. Kalo nanti aku jemputnya telat, Ibu bisa nunggu sebentar di kedai sampai aku sampai, kan?"

   "Yawes, Ibu bakal tunggu sampai kamu datang. Hati-hati di jalan ya, nduk. Ibu sayang Uki."

Lihat selengkapnya