Selamat Membaca 😊
Jangan lupa vote dan komen ya
SUASANA kantin yang terletak di lantai tiga gedung Starlee tidak begitu padat meskipun telah memasuki waktu istirahat. Yuki bisa dengan mudah menemukan sudut ternyaman untuk menyesap es kopi gula aren tanpa mengelilingi area kantin terlebih dulu.
Wanita itu menduga kantin agak sepi karena mayoritas karyawan lebih memilih makan di luar kantor setelah mendapatkan gaji. Tipikal budak korporat sekali-- menghabiskan uang di awal untuk membeli kudapan enak, lalu menjadi pemburu promo dan gratisan di pertengahan bulan.
Setelah menggeser duduknya untuk menghindari terik matahari yang menembus kaca jendela ruangan kantin, Yuki menumpu dagu, mulai memikirkan satu-satu permasalahan hidupnya, terutama tentang perkataan ibunya semalam.
"Ki, kamu berhak bahagia, berhak jatuh cinta. Kamu juga berhak menikah dan punya keluarga. Jangan buat Ibu dan adik kamu jadi alasan penghambat kebahagiaan kamu."
Mengingat kalimat itu terucap dari mulut ibunya sendiri, Yuki tambah gelisah. Apakah selama ini dirinya berpikir seperti itu?
Wanita itu berdecak kesal, "Apa jangan-jangan sikapku selama ini yang buat Ibu salah paham, ya? Padahal aku kan nggak pernah mikir kalo keluarga jadi beban, loh," lirihnya disambung dengan meminum es kopi lagi. "Ya memang sih aku nggak kepikiran nikah karena pengen selalu ada buat mereka-eh, tapi bukan nggak kepikiran nikah juga, cuma belum pengen aja. Duh, kenapa sih aku?" omel Yuki sambil memukul pelan kepalanya sendiri. Ia kembali menghembuskan napas kasar, merasa ruwet dengan jalan pikirannya.
Masih berhubungan dengan peristiwa semalam, Yuki lantas mengeluarkan kartu nama dari saku blazer, pemberian ibunya.
Narendra A. Juna
Yuki mulai membaca tulisan di sana. "Jadi namanya Narendra."
"Wow, Epytrenz!" serunya. Siapa sangka keponakan Bude Hani itu bekerja di toko handicraft dan furniture yang cukup terkenal di area Surabaya Timur.
"Kata Bude, keponakannya punya usaha, kan? Tapi beneran dia yang punya toko ini?" tanyanya pada diri sendiri. "Kalo dia yang jadi pemilik toko ... ya, masa dia mau dijodohin sama aku?" sangkalnya. Duh, nggak mungkin!
"MBAK YUKIII!" Teriakan yang bersumber dari pintu masuk kantin itu sontak membuat Yuki panik.
Gawat, ada mata-mata FBI!
Yuki lantas memasukkan kembali kartu itu dengan buru-buru. Jangan sampai mata jelalatan Yongki tahu.
"Sendirian aja, Mbak?" ucap pria flamboyan yang sudah mengambil duduk di sebelahnya, bersiul dengan tatapan menyebalkan.
"Iya. Sendirian juga?"
"Nggak. Itu sama mereka." Yongki menunjuk ke arah Anisah, Novi, dan Reno yang baru muncul dari balik pintu kantin."Habis makan di kafe seberang kantor, hehe," kekehnya.
Niat hati ingin menyendiri, Yuki akhirnya pasrah setelah empat sekawan itu memenuhi bangku miliknya.
"Mbak Yuki ...," sapa Anisah lirih diiringi oleh senyuman, tatapan perempuan yang tadinya ceria berubah jadi sendu.
Jika sudah begini, Yuki jadi paham arah obrolan yang akan terjadi. "Udahlah, itu sudah keputusan terbaik dari atasan, Sa." Ia lantas meminum lagi es kopi nya, berusaha terlihat baik-baik saja. "Kenapa jadi kalian yang sedih, sih?"
"Terbaik apanya? keputusan kemarin itu nggak fair loh, Ki. Jauh banget malah! Harusnya kamu yang pantes dipromosikan jadi asisten manajer, bukannya Seila si Kutu Kupret itu!" seru Novi yang ceplas ceplosnya melebihi emak-emak.
"Ide promosi dari Seila kemarin terlalu aneh, nggak sesuai sama kondisi sekarang. Kondisi market majalah cetak kita ini lagi kurang bagus, apalagi majalah digital juga baru launching empat bulan yang lalu. Penjualan turun, pemasukan nggak ada. Kalo perusahaan butuh pemasukan lebih, seharusnya getol buat promosi majalah digital, kan? Lah anak dugong itu malah pengen perusahaan kita lebih eksklusif. Pake ngusulin re-branding segala. Apa nggak tambah keluar modal banyak? Bagusan gagasannya Mbak Yuki kemana-mana, dah," ketus Yongki yang mulai berapi-api. Semua rekan pun ikut mengangguk.
"Kalo bukan gara-gara pakde nya salah satu direksi di sini, udah habis tuh anak!"
"Apa dia congkak karena lulusan perguruan tinggi negeri ternama, ya? Terus nganggep kita bego semua gitu?"
"Lagipula nggak relevan juga pertimbangan naik jabatan cuma karena lulusan kuliah di mana. Harusnya kan diukur pake standar performa kerja dong karena punya efek lebih besar untuk keuntungan perusahaan."
"Selama ini Yuki yang udah gantiin kerjaan Mbak Muna waktu resign jadi asisten manajer tahun lalu. Jobdisk kamu apa aja, Ki?" tunjuk Novi. Tanpa menunggu jawaban Yuki, ia. melanjutkan."Yuki input data, iya. Buat laporan? iya. Buat konsep konten marketing? iya juga. Yang benerin tugas anak-anak kalo salah? kerjaan dia juga. Bahkan kemarin Yuki jadi koordinator tim marketing saat ada proyek tahunan. Dengan kampretnya malah anak yang baru masuk kerja tiga bulan udah naik aja jabatannya, padahal nggak ngapa-ngapain. Sinting emang!"
"Nah, itu bener! Semalam waktu rapat, mukanya Mas Raihan surem banget. Udah jadi manager kok nggak berani intervensi. Matanya cuma bisa ngedip-ngedip doang."
Yongki, Novi, dan Anisah sudah cekikikan mengingat kejadian semalam.
Sementara itu, Reno hanya tersenyum masam. Salah satu staf paling senior di dalam divisi marketing itu seperti sudah lama mengecap asam garam kehidupan perkantoran. "Jangan berkecil hati, Ki. Kami bakal support kamu sampai kapan pun." Reno menepuk pelan bahu Yuki, memberi kekuatan bahwa tidak mendapat promosi jabatan bukanlah akhir dari segalanya.
Yuki sudah memasrahkan nasibnya. Bukan karena ia bodoh, bukan. Sudah jadi rahasia umum praktek nepotisme terjadi di dalam perusahaan, salah satunya adalah kantor tempatnya bekerja. Tapi ia juga tidak buta bahwa ada beberapa point miliknya yang tidak bisa disandingkan dengan Seila. Ia kalah jauh.
Seketika suasana mendadak hening ketika seorang wanita yang baru saja menjadi obyek obrolan memasuki area kantin. Seila memang terkenal paling cantik di perusahaan. berbalut dres putih selutut dipadupadankan dengan blazer coklat, perempuan itu melengos saja melewati gerombolan rekan kerjanya.