Marriage By Design

Lionyxzz
Chapter #4

Hari Bersejarah

Selamat Membaca 🥀


    KAFE Ceria Cara menjadi tempat pilihan kencan yang akan mempengaruhi keberlangsungan hidup Yuki, terkhusus reputasinya dalam menjalin relasi dengan seorang pria. Jika saja sudah memiliki kekasih, ia tidak mungkin berakhir menyetujui kencan buta bersama keponakan Bude Hani malam ini.

   Yuki menghampiri salah satu pelayan wanita yang berjaga di depan pintu.

   "Reservasi atas nama Bu Lilis?" tanyanya. Semua kebutuhan kencan malam ini telah dipersiapkan oleh Ibunda Narendra, Lilis Herawati. Begitulah informasi yang ia dapat sejak dua hari yang lalu dari pesan whatsapp yang membuatnya gelisah setengah mampus.

   Pelayan wanita itu memastikan dengan sopan. "Ini dengan Kak Yuki?"

   Yuki mengangguk. "Benar," jawabnya kaku, agak aneh juga mengetahui bahwa pelayan sudah mengetahui namanya. Pasti pelayan ini juga tahu tentang Narendra, pikirnya.

   Mengikuti instruksi, Yuki segera mengikuti arah langkah pelayan ke sebuah ruangan lebar berdinding kaca. "Yang cowok belum dat– eh, salah. Maksud saya Narendra belum datang?" tanyanya lagi.

   "Belum, Kak."

   Yuki mendadak lega. Setidaknya ada sedikit waktu baginya untuk mengistirahatkan kaki.

   "Kakak mau pesan minum apa?"

   "Es teh lemon."

   "Baik. Untuk makanan utama, sebaiknya diantarkan sekarang atau nanti?"

   "Nanti saja kalo Narendra sudah datang," putusnya.

   Sejauh yang Yuki pikirkan, makan bersama seseorang dalam kondisi canggung itu tidak mengenakkan. Sekalipun hidangan yang disajikan berupa daging wagyu A5. Wanita itu akan memastikan obrolan mereka akan berjalan dengan lancar sebelum menikmati hidangan.

   Sambil menunggu kedatangan Narendra, Yuki menikmati minuman dingin dan mengamati area kafe dari balik dinding kaca. Suasana outdoor yang terlihat itu mampu memberikan kesan yang segar dan cocok sebagai tempat berkumpul bersama teman dan keluarga. Kafe ini memang memiliki desain semi outdoor. Terdapat ruangan tertutup dengan AC serta area terbuka yang menghadirkan kesejukan alami. Pada hari kerja saja tempat makan ini sudah ramai pengunjung. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana keramaian kafe ini saat weekend berlangsung.

   Yuki sudah mengetahui beberapa informasi tentang Narendra dari informan valid yang bernama Bude Hani. Meskipun tidak banyak, tapi itu berguna untuk mengatur apa saja topik penting dan tidak penting yang bisa disampaikan dalam obrolan. Tentu saja Yuki tidak ingin membuat pria itu ilfil, meskipun juga tidak berusaha membuat kesan baik untuk menarik perhatian.

   Beberapa kali tangan wanita itu mengetuk pinggiran meja, menyalurkan ketegangan yang sudah menjalar di seluruh tubuhnya.

    Santai aja, nggak usah takut, Ki! Kayak mau dinikahin langsung aja! rutuknya pada diri sendiri.

   Untuk mengusir kegugupan yang kian mengganggu, Yuki memesan makanan ringan dan bersenandung lirih mengikuti iringan lagu yang diputar oleh pihak kafe dalam meramaikan suasana malam hari ini.

   Detik, menit, jam telah bergulir. Tidak terasa sudah dua gelas es teh lemon dan dua porsi gyoza yang telah Yuki habiskan. Akan tetapi, sampai saat ini—pria yang memiliki janji temu dengannya tidak kunjung datang.

    Sialan!

   "Nunggu sampai kapan, nih?" keluhnya sambil mengusap pipinya yang mulai mendingin karena terkena paparan AC. Udara dingin makin membuatnya tidak nyaman.

   Yuki mengecek arlojinya yang melingkar di tangan, lalu bergeser melihat layar ponselnya. Hasilnya sama. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Bila dihitung sejak kedatangannya ke kafe, ia telah menghabiskan dua jam hanya untuk menunggu. Dalam kebingungan, wanita itu coba berpikir positif bahwa Narendra tidak mungkin lupa dengan pertemuan malam ini. Dari sumber terpercaya, latar belakang kehidupan pria itu tidaklah neko-neko.

   Seingatnya, Bude Hani telah mengirimkan foto miliknya kepada Narendra. Jadi tidak mungkin pria itu tersesat dan tidak menemukan dirinya. Jika lupa, bertanya kepada pelayan di depan pintu apa susahnya?

   Mungkin ini akan terlihat bodoh dalam kencan buta di zaman yang serba canggih dan penuh tipu muslihat. Yuki tidak memiliki nomor ponsel Narendra. Benar, ia memang sudah mengantongi kartu nama milik pria itu, tetapi tidak ada informasi mengenai nomor ponsel atau whatsapp, hanya tertera akun instagram dan email pribadi.

   Bude Hani juga tidak memberikan nomor Narendra, tidak pula menyarankan untuk berhubungan lewat pesan secara pribadi. Wanita paruh baya itu malah menyuruh Yuki untuk bertemu dan mengobrol langsung dengan keponakannya terlebih dulu. Jadi, setelah merasa ada kecocokan, mereka bisa saling bertukar nomor dan berkabar sepuasnya.

   Tidak ingin menunggu lebih lama, Yuki membuka ponselnya dan masuk dalam aplikasi Instagram. Dengan keberanian besar yang datang entah dari mana, ia mengetikkan pesan singkat untuk mengetahui keberadaan Narendra. Takutnya ada sesuatu yang terjadi kepada pria itu sehingga tidak bisa datang tepat waktu. Bisa jadi mobilnya mogok? Ada rapat mendadak? Mungkin saja kecelakaan? Aduhh ... isi kepala Yuki mulai kacau.

   Yuki hampir mengumpat saat pesan darinya tidak kunjung dibaca dan mendapat jawaban. Kondisi kafe yang semula diisi oleh banyak orang kini hanya meninggalkan tiga pelanggan, termasuk dirinya. Ia mengecek ponselnya untuk kesekian kali, berharap pria itu membaca pesannya, tapi nihil. Dalam kebuntuan, Yuki tidak berpikir untuk menghubungi Bude Hani dan menanyakan kabar tentang Narendra. Bisa-bisa Bude jadi panik dan tekanan darahnya naik.

    Ya, Gusti! Apa Narendra menganggap pertemuan ini main-main? Yuki membatin penuh kesal. Jika tahu bahwa menunggu kedatangan Narendra akan memakan waktu lama, tahu begitu ia bisa membawa berkas kantor untuk dikerjakan.

   Suasana hati Yuki semakin tidak tenang setelah menyaksikan satu per satu pelanggan mulai hilang dari pandangannya. Ia menoleh ke segala arah ketik lampu di beberapa sudut kafe mulai padam. Atensinya kembali saat pelayan kafe menghampirinya.

   "Maaf, Kak. Pelanggan atas nama Kak Narendra belum datang." Pelayan wanita memberitahu dengan tatapan iba. "Masalahnya ...," jedanya, sesekali melirik ragu, "sebentar lagi kafe kami akan tutup," sambungnya lirih.

Lihat selengkapnya