Selamat Membaca 😊
Jangan lupa tinggalkan love atau komen ya
SETELAH menyusuri jalan selama sepuluh menit, Yuki akhirnya sampai di area perumahan Nginden Intan.
Di depan komplek, salah satu satpam menyapanya. "Malam, MbaK Yuki." Satpam itu sudah hapal dengan Yuki karena hampir setiap minggu, ia mampir bahkan menginap ke rumah sahabatnya.
"Malam, Pak," jawabnya lirih sambil melanjutkan langkahnya hingga berhenti di salah satu rumah berpagar hitam.
Bel rumah ditekannya berkali-kali, hingga Sang Tuan rumah muncul dengan wajah ngantuk dan rambut yang berantakan.
"Udah tidur aja, Na." Yuki melengos masuk dan langsung menuju kamar tidur Nana, sahabatnya.
"Lah, emang udah malam, kocak," balas Nana.
Dengan gerakan dramatis, Yuki merebahkan diri di kasur empuknya. "Akhirnya bisa istirahat juga ..." sambil mengembuskan napas panjang, Yuki mengomel, "punggungku rasanya mau copot dari badan."
Ia berguling ke kanan dan ke kiri dan melakukan peregangan beberapa kali seperti telah melakukan pekerjaan fisik yang berat.
Nana bersuara, "Kupikir kamu nggak jadi datang menginap karena keasikan nge-date. Makanya aku tinggal tidur duluan."
Sejak awal , Yuki memang berencana untuk menginap di kontrakan Nana setelah pulang menemui Narendra Juna, dengan hasil yang baik maupun buruk. Rumah sahabatnya ini sudah ia anggap basecamp tempatnya berkeluh kesah.
Nana dan Yuki bekerja di satu perusahaan yang sama hanya berbeda divisi. Yuki bertanggung jawab di urusan marketing, sedangkan Nana bertugas sebagai editor dalam divisi redaksi.
"Na ..."
"Ha?"
"Menurutmu aku perempuan yang seburuk apa?" Yuki mulai meracau. Matanya terpaku pada langit kamar Nana yang punya corak bintang dengan warna biru.
Nana melirik sangsi ke arah Yuki, "Kok tiba-tiba ngomong begitu?"
"Ya nggak papa, cuma tanya aja." Yuki bangkit dari tidurnya, duduk di atas kasur dan menyender di dinding. Tangannya mengelus perutnya pelan. "Laper, Na. Punya stok mi instan, nggak?" lirihnya.
Nana menganga. "Bukannya kamu habis kencan? Harusnya makan yang enak-enak dan kenyang mampus lah, Ki. Masa aturan kencan aja nggak ngerti," tukas Nana yang kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
Yuki beranjak dari kasur dan menatap sahabatnya malas. "Iya, kenyang. Kenyang air!"
Tanpa memperdulikan reaksi sahabatnya, Yuki berjalan ke dapur dan mengambil satu cup pop mie dari kabinet dapur. Ia mulai merebus air dan menyeduh mie nya. Setelah beberapa menit, ia kembali ke kamar Nana untuk melanjutkan makan.
"Wajahmu kenapa, sih? Tadi kencannya lancar, kan?" Nana memperhatikan raut muka Yuki yang jauh dari kata berbunga-bunga.