Marriage By Design

Lionyxzz
Chapter #6

Permintaan Bunda

Selamat Membaca ☺️

Jangan lupa love dan komen, ya 



Satu minggu yang lalu

    ANGIN sore yang berembus cukup kencang merontokkan banyak daun di sekitar bukit Baros yang cukup sepi. Laki-laki yang sedang duduk di salah satu batu besar itu hanya bisa mendengar gemerisik angin dan suara kodok yang saling menyahut. Tidak lupa suara cuitan burung pelatuk yang betah bertengger di atas pohon-pohon pinus besar.

   Hiruk pikuk kendaraan tidak bisa ia dengar di sini. Itu cukup melegakan baginya yang memilih menjauh dari keramaian kota. Sudah lebih dari tiga jam laki-laki dengan setelan kaus hitam dan celana cargo warna moka itu berdiam diri untuk menghilangkan suntuk.

   Ide dalam kepalanya lenyap, bahkan ia tidak bisa menyelesaikan desain meja yang sudah ia buat dua bulan lalu.

   Menenggak air mineral dari botol, laki-laki berbadan ramping itu dikejutkan dengan dering ponselnya.

    "Ren, lagi di mana sekarang? Dari tadi gue telpon nggak dijawab."

   Keluhan dari suara itu makin membuatnya malas. Iya. Narendra—laki-laki yang sejak tadi sibuk memandangi langit dan pohon yang berjejer itu memang dalam mode yang kurang bersahabat.

   "Lagi di luar," jawabnya singkat.

    "Iya, tau lo pasti di luar. Masalahnya lo lagi di mana sekarang, pe'ak?!"

   Narendra mendesis, "Di Baros." Tangannya menyugar rambutnya ke belakang.

    "Anjing, jauh amat lo ke sana! Memangnya lo lagi ada urusan di sekitar Jakarta? Atau jangan jangan lo—"

   "Jangan banyak bacot deh, Vino. Nggak ada apa-apa seperti bayanganmu, kebetulan cuma mau nyari inspirasi aja di sini," potong Narendra kesal.

    "Hehehe"

   Narendra paham keterkejutan Vino memang beralasan. Pasalnya, mengapa ia yang tinggal dan bekerja di Surabaya harus jauh-jauh ke ke tempat ini hanya untuk mencari inspirasi?

   "Ada apa?" tanya Narendra.

    "Tadi Pak Rama telpon gue. Katanya, weekend ini 'Si Tukang Ngilang' yang namanya Narendra Juna ada jadwal ikut ketemu sama investor dari Jepang."

   Narendra tersenyum mendengar ucapan sahabat sekaligus rekan bisnisnya itu. Ia lalu menimbang, apakah harus ikut atau tidak. Sejujurnya, bertemu dengan investor bukanlah tugasnya.

   Belum saja menjawab Vino, ponsel lain yang tersimpan di saku celananya bergetar. Narendra memang memiliki dua ponsel untuk membedakan urusan pekerjaan dan pribadi.

   Ada satu pesan Whatsapp dari Bundanya. Ia lalu membukanya.

From: Bunda

Ren, besok bisa pulang ke rumah? Bunda mau bicara serius sama kamu. ini soal masa depan kamu. Bunda harap, kamu jangan menghindar lagi seperti kemarin.

Bunda selalu sayang sama kamu, Ren.

   Narendra berdecak. Ia paham betul arti kata 'masa depan' yang Bundanya tuliskan. Haruskah ia pulang? Akan tetapi, sampai kapan juga ia bisa menghindar lagi?

Lihat selengkapnya