Selamat Membaca ☺️
Jangan lupa love dan komen, ya
JALANAN Kota Surabaya pukul enam pagi sudah dipadati kendaraan. Di beberapa titik, kemacetan mulai mengular. Yuki memacu motor matic nya membelah celah sempit di antara kendaraan dengan kecepatan 40 km/jam. Angin pagi yang menerpa helm nya tidak cukup nyali untuk mendinginkan kepalanya yang sudah panas sejak bangun tidur.
Setelah memarkirkan motornya di basement, Yuki melangkah menuju lobi.
Pak Madun, security yang sedang berjaga itu membukakan pintu kaca dengan senyum lebar.
"Pagi, Mbak Yuki! Tumben banget jam segini udah mendarat ke kantor? Kerja setoran, ya, Mbak?" canda Pak Madun.
Yuki memaksakan sebuah senyum tipis. "Iya, Pak. Kerjaan saya lagi banyak banget. Duluan, ya, Pak!"
Yuki melihat meja resepsionis masih kosong melompong. Hanya ada tumpukan beberapa majalah edisi bulan lalu. Yuki menuju ke lantai tiga menggunakan lift.
Lantai tiga masih diselimuti keheningan yang janggal. Jarang-jarang Yuki menjadi penghuni pertama yang datang ke ruangan divisi marketing. Ruangan itu masih gelap gulita. Ia berjalan ke arah jendela dan menyibak tirai, membuat cahaya matahari pagi masuk untuk menghidupkan suasana. Lantas tangannya menyetel pendingin ruangan dengan suhu 23 derajat celcius.
Yuki menghempaskan diri ke kursi kubikelnya. Jemarinya meraih jurnal kecil, mulai mencoret-coret ulang jadwal yang sudah berantakan. Satu minggu terakhir adalah neraka kecil baginya. Seila, Sang Asmen telah ditugaskan untuk mengikuti pelatihan marketing ke Singapura selama satu bulan. Mau tidak mau, Yuki-lah yang harus mengerjakan beberapa proyek Seila yang terbengkalai.
Ada rasa pahit yang merambat di tenggorokannya. Jika dunia ini adil, seharusnya dirinya yang duduk di kursi pesawat itu menuju Singapura—mengemban tugas yang dapat meningkatkan potensinya di Starlee. Tapi apa mau dikata, harapan itu hanyalah sebuah harapan.
Cklek.
Suara pintu yang terbuka membuat Yuki menoleh. Ia melihat Raihan melangkah masuk ke ruangan. Laki-laki itu tampak rapi, tapi ada guratan lelah yang tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Tatapan mereka berdua beradu sekejap. Namun, Yuki buru-buru memalingkan wajah, kembali sibuk dengan sticky notes-nya.
"Hai, Ki," sapa Raihan. Suaranya rendah dan terdengar penuh hati-hati.
Yuki hanya merespons dengan anggukan singkat tanpa menoleh. Ia tidak berniat menyapa laki-laki itu meski secara kedudukan, jabatan Raihan lebih tinggi darinya. Keheningan di antara mereka terasa begitu besar, seolah ada tembok kaca besar yang membatasi mereka. Padahal, kubikel Raihan berada tepat di sebelah milik Yuki.
Raihan menghela napas, bunyi gesekan kursinya terdengar gelisah. Yuki tahu dialah salah satu pemicunya. Akan tetapi, bagi Yuki, Raihan pantas dibegitukan.
"Mas Raihan, aku boleh ngomong?" Suara Yuki memecah keheningan.
Raihan menoleh cepat, "Ya, Ki? Ada Apa?"
"Sebenernya Seila itu kerja sama Mas atau Mas yang kerja buat Seila?"
Raihan nampak tertegun. Pertanyaan itu lebih mirip tamparan halus. "Ki, ngertiin aku dong. Meskipun aku manajer, aku nggak punya kuasa penuh soal kebijakan Direksi. Kamu tahu sendiri, bukan aku yang milih dia jadi Asmen," jelas Raihan.
"Tapi sejujurnya Mas tahu kan kinerja Seila seperti apa?" potong Yuki cepat. "Mas diam aja saat dia lempar semua berkasnya ke mejaku sebelum dia terbang ke Singapura ..."
"Yuki, aku minta maaf kalau sejak kemarin—"
"Jangan minta maaf sama aku aja, Mas." Kali ini Yuki berdiri, membuat Raihan ikut beranjak ke kursinya agar bisa mensejajarkan pandangan. "Minta maaf juga sama tim lain yang kena imbas kelakukan dia. Kita disini tim, bukan asisten pribadi Seila."
Yuki melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia bisa melihat keraguan di mata bos-nya itu.
"Kalau memang Mas Raihan nggak bisa mengubah keadaan karena takut sama atasan, seenggaknya..." Yuki menjeda, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang ia tahan. "Seenggaknya Mas punya nyali buat peduli sama orang-orang yang bekerja di bawah Mas."
"Dengerin dulu, Ki," suara Raihan merendah. "Aku membiarkan Seila berangkat ke Singapura itu demi kamu. Aku nggak mau bikin keributan di depan Direksi yang bisa berimbas buruk ke posisi kamu di sini."
Yuki tertawa pedih, "Demi aku, Mas? Atau demi ego Mas yang nggak berani bilang 'nggak' sama atasan?"
"Aku sayang kamu, Yuki!" Raihan akhirnya meledak, melompati batas profesional yang selama ini mereka jaga. "Kamu harusnya tahu."