“Kalau saya jujur dari awal… kemungkinan besar kamu bakal mundur.”
Kalimat itu langsung membuat Aqeela menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk kopi. Ia mengangkat kepala pelan dan menatap pria di depannya.
“Sejujur apa memangnya?” tanyanya hati-hati.
Pria itu tersenyum tipis, tapi matanya terlihat lelah.
“Saya baru batal nikah sebulan lalu. Setelah tujuh tahun pacaran.”
Hening. Bahkan musik akustik di dalam kafe mendadak terasa terlalu pelan.
Aqeela berkedip beberapa kali.
“Tunggu… jadi Mas datang ke perjodohan ini dalam keadaan habis ditinggal nikah?”
“Kurang lebih begitu.”
Dan anehnya, bukannya pergi, Aqeela malah semakin ingin tahu bagaimana pria di depannya masih bisa duduk setenang itu setelah hatinya dihancurkan seseorang yang ia cintai selama tujuh tahun.
***
Pertanyaan basi, kapan nikah? Satu kata yang paling ingin dihapus Aqeela dari kamus bahasa Indonesia adalah Kapan.
Bukan kapan gajian, bukan pula kapan liburan ? Tapi sebuah kalimat tanya keramat yang biasanya muncul setelah basa-basi busuk soal cuaca atau kenaikan harga beras.
"Aqeela, si Citra anaknya Bu RT itu lho, baru aja lahiran anak kedua. Padahal dia lima tahun di bawah kamu, ya?"
Aqeela yang sedang asyik mengunyah rengginang di sofa ruang tamu langsung tersedak. Ia menatap Ibunya yang sedang melipat mukena dengan wajah tanpa dosa.
"Bu, Aqeela baru pulang kerja. Otak lagi berasap, jangan ditambah beban pikiran dong," keluh Aqeela sambil membetulkan letak hijab pashmina instannya yang sudah miring-miring.
Ibu menghela napas panjang, tipe helaan napas yang biasanya menjadi pembuka ceramah panjang lebar.