Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #2

SEPAKAT #2

Aqeela menatap pantulan dirinya di cermin kamar. Pashminanya sudah rapi, tapi hatinya masih berantakan. Keputusannya sudah bulat, ia menerima Arhan. Bukan karena ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria yang matanya mirip panda itu, tapi karena ia ingin memberikan hadiah pension untuk Ibunya dari jabatan Ketua Pengawas Jodoh Aqeela.

"Nduk, beneran ini? Nggak terpaksa, kan?" tanya Ibu yang tiba-tiba muncul di pintu kamar dengan mata berkaca-kaca.

Aqeela tersenyum, lalu meraih tangan Ibunya dan menciumnya.

"InsyaAllah, Bu. Qeela udah istikharah. Doain aja ini jalan yang terbaik."

Dalam hati, Aqeela membatin, Ya Allah, maafkan hamba kalau niatnya masih ada campuran ingin tenang dari omelan Ibu.

***

Dua minggu sebelum hari H, Aqeela meminta Arhan bertemu lagi. Kali ini bukan di kafe hits, melainkan di sebuah taman kota yang agak sepi. Aqeela membawa sebuah map cokelat.

"Mas Arhan, sehat?" sapa Aqeela saat melihat Arhan duduk di bangku taman. Dia terlihat lebih rapi hari ini, meski raut sedih itu masih betah berlama-lama di sudut bibirnya.

"Alhamdulillah, Qeel. Gimana? Ada hal mendesak soal persiapan akad?" tanya Arhan.

Aqeela duduk dengan jarak satu meter. Ia meletakkan map cokelat itu di antara mereka.

"Persiapan akad sudah aman diurus orang tua. Tapi... persiapan setelah akad yang mau saya bahas."

Arhan mengernyitkan dahi.

"Maksudnya?"

"Kita berdua tahu kondisi kita," Aqeela memulai dengan suara tenang.

Lihat selengkapnya