Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #4

Poin ke Dua dan Kenangan Masa Lalu #4

Aqeela terbangun saat alarm di ponselnya menjerit pukul 04.30. Ia sempat linglung, menatap langit-langit kamar yang asing, sampai akhirnya sadar bahwa ia bukan lagi di kamarnya yang penuh poster dekorasi warna pastel, melainkan di rumah Arhan.

Sesuai poin nomor enam di kontrak mereka, Aqeela bertekad untuk memulai hari dengan ibadah bersama. Ia keluar kamar dengan mukena yang sudah tersampir di bahu, lalu berjalan menuju tangga.

"Mas Arhan?" panggilnya pelan di depan pintu kamar lantai atas.

"Mas, Subuh." Lanjutnya sedikit mengeraskan suara. Hening. Tidak ada sahutan. Aqeela mencoba mengetuk lagi, sedikit lebih keras.

"Mas? Katanya mau coba taat? Shalat jamaah, yuk?" Aqeela tidak menyerah.

Pintu terbuka tiba-tiba. Arhan berdiri di sana, masih memakai kaus longgar dan celana boxer pendek. Rambutnya berantakan, dan matanya merah seperti orang yang tidak tidur semalaman.

"Shalat sendiri aja. Saya lagi kurang enak badan," Arhan menjawab ketus.

"Tapi Mas…"

Blam.

Pintu tertutup lagi. Aqeela mengelus dadanya, mencoba menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun.

"Sabar, Qeel. Orang patah hati emang agak mirip reog," gumamnya menghibur diri sendiri.

Lihat selengkapnya