Seminggu sudah Aqeela menyandang status sebagai istri Arhan, tapi rasanya ia lebih mirip sebagai penghuni kos-kosan yang kebetulan berbagi dapur dengan pemilik rumah yang antisosial. Arhan tetap pada mode manusia es. Dia berangkat saat Aqeela masih menyiapkan kopi, dan pulang saat Aqeela sudah hampir terlelap.
Sore itu, Jakarta diguyur hujan deras. Aqeela yang bekerja di bidang penerbitan, baru saja pulang kantor dan tiba di rumah. Ia mendapati rumah dalam keadaan gelap. Ternyata listrik padam. Dengan bantuan senter ponsel, Aqeela meraba dinding menuju dapur untuk mencari lilin. Saat melewati ruang kerja Arhan yang biasanya tertutup rapat, Aqeela melihat pintunya sedikit terbuka. Angin dari jendela yang lupa ditutup membuat gorden berkibar tertiup angina yang bertiup kasar. Aqeela masuk, berniat menutup jendela sebelum air hujan membasahi lantai kayu. Namun, langkahnya terhenti saat kakinya menyenggol sesuatu. Sebuah kotak kayu kecil tergeletak di bawah meja, isinya berserakan. Foto-foto, tiket bioskop lama, dan sebuah botol parfum wanita yang sudah hampir kosong. Aqeela ragu, tapi rasa ingin tahunya menang. Ia memungut selembar foto. Di sana, Arhan tersenyum lebar, jenis senyum yang belum pernah Aqeela lihat secara langsung. Di sampingnya, seorang wanita cantik berambut panjang merangkul lengannya manja. Mereka terlihat begitu, utuh.
"Sedang apa kamu di sini?"
Suara berat dan dingin itu membuat Aqeela nyaris melompat. Arhan berdiri di ambang pintu. Dalam kegelapan yang hanya dibantu cahaya kilat dari luar, wajah Arhan tampak mengerikan.
"Mas... ini, jendelanya terbuka. Aku cuma mau tutup supaya nggak tempias," jawab Aqeela terbata, segera meletakkan foto itu kembali ke lantai. Arhan melangkah masuk, merebut kotak kayu itu dengan kasar.

"Siapa yang kasih izin kamu masuk ke ruangan ini? Apalagi menyentuh barang-barang saya?"