Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #6

Warna yang Lain #6

Sisa ketegangan semalam masih terasa mengambang di udara, seolah-olah aroma jasmine dari botol parfum yang tumpah itu belum benar-benar pergi dari sela-sela lantai kayu rumah mereka. Aqeela terbangun dengan perasaan lelah yang berbeda dari biasanya. Bukan karena beban kerja sebagai editor naskah yang sedang menumpuk, melainkan karena beban pikiran yang terus-menerus menekan dadanya. Menikah dengan Arhan ternyata jauh lebih melelahkan daripada menghadapi rentetan pertanyaan kapan menikah, dari keluarga besarnya.

Aqeela berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menarik napas panjang untuk menstabilkan emosi. Hari ini ia memilih mengenakan celana kulot berwarna sage green dipadukan dengan atasan berwarna krem pucat. Untuk sentuhan akhir, ia melilitkan hijab pashmina berbahan ceruty warna dusty pink dengan gaya simpel yang menjuntai di satu sisi. Ia selalu menyukai warna-warna pastel, baginya warna-warna itu adalah tameng untuk menjaga suasana hatinya agar tetap tenang di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

Setelah memastikan riasannya yang tipis sudah rapi, ia keluar kamar. Suasana rumah masih sepi, namun aroma kopi yang kuat sudah tercium dari arah dapur. Aqeela melihat Arhan sedang berdiri memunggungi meja makan, menyesap kopi hitamnya sambil menatap keluar jendela.

Pagi ini, Arhan tampak sangat berbeda. Ia mengenakan kemeja biru navy yang disetrika sangat licin, menonjolkan bahunya yang tegap. Potongan rambut two blocknya yang biasanya terlihat agak berantakan saat mereka berpapasan di malam hari, kini tersisir rapi dengan bantuan sedikit pomade, menampakkan dahi dan alisnya yang tegas. Secara visual, Arhan adalah gambaran pria mapan yang sempurna, namun Aqeela tahu ada retakan besar di balik penampilan rapi itu.

Aqeela berjalan menuju rak sepatu di dekat pintu depan, mencoba tidak menimbulkan suara. Namun, decit sepatunya di atas lantai marmer rupanya tertangkap oleh pendengaran Arhan.

"Qeel," panggil Arhan tanpa berbalik.

Aqeela menghentikan gerakannya yang sedang menarik tali sepatu.

"Ya, Mas?"

Arhan meletakkan cangkir kopinya, lalu berbalik dan berjalan mendekat. Ia memasukkan satu tangannya ke saku celana bahan hitamnya, sementara tangan lainnya memegang kunci mobil. Langkahnya terdengar mantap namun ragu di saat yang bersamaan.

"Soal semalam... saya minta maaf," Arhan mencoba bicara dengan tulus. Ia berhenti sekitar dua meter dari Aqeela, menjaga jarak aman yang tertulis di kontrak mereka.

"Saya nggak seharusnya membentak kamu. Kamu cuma mau bantu menutup jendela, dan saya... saya kehilangan kendali."

Aqeela berdiri tegak, merapikan letak pashminanya yang sedikit bergeser karena gerakannya tadi. Ia menatap Arhan dalam-dalam. Mata pria itu tidak lagi tajam seperti semalam, melainkan penuh dengan rasa bersalah yang jujur.

"Iya, sudah aku maafkan, Mas," Aqeela menyahut dengan nada yang tenang namun tetap tegas.

 "Tapi tolong dipahami, aku bukan musuh di rumah ini. Aku nggak punya niat untuk menggeledah masa lalu Mas. Tapi kalau Mas terus-menerus menyimpan bbom waktu di ruangan yang tidak terkunci, jangan salahkan aku kalau aku nggak sengaja menyenggolnya."

Arhan tertegun. Ia tidak menyangka Aqeela akan menjawab dengan seberani itu. Biasanya, Aqeela akan memilih untuk diam atau memberikan sindiran halus. Kali ini, wanita di depannya bicara dengan kejujuran yang menampar.

"Saya paham. Saya akan lebih berhati-hati,"

Arhan terdiam sejenak, memperhatikan penampilan Aqeela dari atas ke bawah.

"Kamu... sudah mau berangkat?"

"Iya, takut kena macet di Sudirman. Hari ini ada rapat redaksi jam sembilan," jawab Aqeela sambil meraih tas kerjanya yang berwarna krem dari atas meja konsol.

"Bareng saya saja," tawar Arhan tiba-tiba.

Aqeela menghentikan gerakannya. Ia teringat perjalanan pertama mereka setelah menikah yang terasa seperti berada di dalam lemari es.

Lihat selengkapnya