Pukul lima sore lewat sedikit, Aqeela sudah berdiri di lobi kantornya yang berlantai marmer dingin. Ia sesekali melirik jam tangan peraknya, lalu merapikan ujung pashmina merah mudanya yang sedikit berantakan terkena angin AC. Di luar, sisa-sisa gerimis masih membasahi jalanan Jakarta, menciptakan pantulan lampu kota yang berpendar di atas aspal basah.
Sebuah mobil SUV hitam yang sangat ia kenali berhenti tepat di depan lobi. Kaca jendela turun perlahan, menampakkan sosok Arhan dengan kemeja navy yang lengan kemejanya sudah digulung hingga siku, memberikan kesan santai namun tetap berwibawa.
"Sudah lama nunggu?"
"Baru lima menit, Mas. Pas banget kok," jawab Aqeela sambil memasang sabuk pengaman. Aroma di dalam mobil hari ini terasa berbeda; bukan lagi aroma parfum wanita yang samar seperti di ruang kerja Arhan tempo hari, melainkan aroma kopi dan sandalwood yang maskulin dan menenangkan.
Mobil membelah kemacetan sore menuju sebuah kawasan kuliner di daerah Senopati. Sepanjang jalan, suasana tidak lagi sekaku biasanya. Arhan mulai bercerita tentang revisi desain bangunan yang baru saja ia selesaikan, sementara Aqeela menanggapi dengan cerita tentang naskah novel thriller yang membuatnya pusing tujuh keliling karena alurnya yang terlalu banyak lubang.
Mereka akhirnya berhenti di sebuah kedai ramen kecil yang tersembunyi di gang tenang. Tempatnya hangat, dengan pencahayaan kuning temaram dan aroma kaldu yang menggugah selera.
"Mas sering ke sini?" tanya Aqeela saat mereka duduk berhadapan. Arhan menggeleng sambil melepaskan jam tangannya, meletakkannya di samping mangkuk.
"Dulu sering lewat, tapi baru kali ini mampir. Saya pikir kamu suka makanan yang hangat kalau habis hujan begini."
Aqeela tersenyum. Perhatian kecil itu terasa seperti kejutan manis. Saat ramen pesanan mereka datang, Aqeela segera menyeruput kuahnya.
"Enak banget, Mas! Gurihnya pas."
Arhan memperhatikan Aqeela yang makan dengan lahap. Tidak ada lagi kecanggungan yang mencekik. Untuk pertama kalinya, Arhan tidak membandingkan momen ini dengan apapun di masa lalunya. Ia benar-benar ada di sana, di depan Aqeela, menikmati uap panas dari mangkuk ramennya.
"Qeel," panggil Arhan di tengah makan mereka.
"Ya?" Aqeela mendongak, ujung hidungnya sedikit memerah karena uap pedas.
"Makasih ya, sudah mau kasih saya kesempatan pagi tadi. Saya tahu saya bukan orang yang mudah diajak bicara belakangan ini."
Aqeela meletakkan sumpitnya sejenak.
"Mas, kita kan sudah tanda tangan kontrak. Di sana tertulis kita partner. Partner itu artinya saling tarik-ulur. Kalau Mas lagi narik diri, ya aku coba buat ulur sabar. Tapi jangan kelamaan narik dirinya, nanti aku capek," Aqeela menanggapi dengan nada setengah bercanda namun terselip keseriusan. Arhan terkekeh pelan.